Pemilu kali ini sempat memanas dalam beberapa hari terakhir karena pemimpin dari koalisi oposisi Partai Pakatan Rakyat, Anwar Ibrahim, menuduh Partai Barisan Nasional merekayasa 40.000 daftar pemilih dengan cara memberikan tiket secara cuma-cuma bagi warga Malaysia yang berada di luar negeri untuk kembali ke negaranya. Anwar Ibrahim menduga langkah ini dilakukan untuk mendukung kubu pemerintah.
Namun, pihak Barisan Nasional menyangkal tudingan tersebut. Mereka mengatakan hanya sekedar membantu pemilih untuk kembali ke kampung halaman mereka.
KPU Malaysia mengatakan partai politik diperbolehkan membiayai transportasi pemilih ke daerah pemilihan mereka, tapi tidak boleh berusaha mempengaruhi ke mana suara mereka akan diberikan.
Seorang pemilih, Wardina Shafie merasa muak terhadap meningkatnya biaya hidup, angka kejahatan dan meningkatnya angka korupsi dalam pemerintah yang telah berkuasa selama 56 tahun ini. Ia pun berharap ada perubahan nyata usai pemilu ini digelar.
"Saya pikir oposisi memiliki peluang bagus untuk mengambil alih pemerintahan. Saya hanya khawatir tentang penipuan pemilih," ungkap wanita 31 tahun ini, seperti yang dilansir
Reuters (Minggu, 5/5).
Hasil jajak pendapat mengatakan bahwa Partai Barisan Nasional yang dipimpin PM Najib Razak diprediksi menang tipis dari koalisi oposisi Partai Pakatan Rakyat. Namun bukan berarti partai pimpinan Anwar Ibrahim ini mampu tidak membalikan keadaan, mengingat banyaknya animo masyarakat Malaysia yang menginginkan ada perubahan usai pemilu.
[ian]
BERITA TERKAIT: