Jejak berdirinya pesantren ini bermula dari keinginan seorang ulama kharismatik, KH Chamim Jazuli atau yang lebih dikenal sebagai Gus Miek, untuk memiliki sebuah pesantren di Jakarta. Pengasuh Pondok Pesantren Al Falah Ploso, Mojo, Kediri, sekaligus pencetus Dzikrul Ghofilin dan Jam’iyah Semaan Jantiko Mantab itu menyampaikan keinginannya kepada KH Hamid Djiman, seorang pengusaha swasta di Jakarta yang merupakan pengagum sekaligus pengikutnya.
Keinginan tersebut kemudian menjadi amanah yang berusaha diwujudkan KH Hamid Djiman. Dengan restu Gus Miek, ia mulai menyiapkan langkah untuk mendirikan lembaga pendidikan pesantren di Jakarta. Cikal bakal pesantren itu kemudian mulai dirintis pada awal 2002.
Kisah tersebut disampaikan Pengasuh Pesantren Al Hamid, KH Lukman Hakim Hamid, ketika memberikan sambutan dalam pembukaan Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama (Munas dan Konbes NU) 2023.
Menurut Kiai Lukman, pendirian Pesantren Al Hamid tidak terlepas dari pesan yang disampaikan KH Hamim Djazuli atau Gus Miek bersama KH Munif Djazuli kepada ayahnya, KH Hamid Djiman.
"Berawal dari perintah sang guru romo Kiai Hamim Djazuli atau lebih dikenal atau akrab disapa dengan Gus Miek dan Romo Kiai Munif Djazuli yang mana beliau berdua memerintahkan kepada ayahanda kami Abah KH Hamid Djiman untuk membuat ponpes di lahan milik pribadi beliau," ujar Kiai Lukman dalam keterangan yang diterima rekaksi di Jakarta
Amanah tersebut kemudian diwujudkan KH Hamid Djiman dengan mendirikan sebuah yayasan yang pada awalnya bernama Yayasan Mantab Sejahtera. Dengan keuletan dan kegigihannya, yayasan tersebut membebaskan dua bidang tanah yang kemudian menjadi lokasi Pesantren Al Hamid Putra di Cilangkap dan Pesantren Al Hamid Putri di Pondok Ranggon.
Lokasi pesantren putra berada di Cilangkap dengan luas sekitar 65.000 meter persegi, sementara pesantren putri berdiri di atas lahan sekitar 35.000 meter persegi. Pembangunan kemudian dilakukan secara bertahap, mulai dari asrama, gedung madrasah, hingga berbagai fasilitas penunjang pendidikan dan kehidupan santri.
Dalam proses pembangunan tersebut, KH Hamid Djiman tidak berjalan sendiri. Ia mendapat dukungan dari sahabatnya, Garibaldi Thohir atau yang akrab dikenal sebagai Boy Thohir, yang saat itu merupakan Direktur Utama Adaro Energy Indonesia.
Keterlibatan Boy Thohir menjadi bagian penting dalam fase awal pembangunan Pesantren Al Hamid. Bersama KH Hamid Djiman, pembangunan pesantren dilakukan secara bertahap di atas lahan yang cukup luas.
"Pada akhirnya ayahanda bersama sahabat beliau H Garibaldi Thohir atau Haji Boy yang ikut membantu mulai perlahan membangun ponpes di atas lahan seluas enam hektar di pondok putra dan 3,5 hektare di pondok putri," ucap Kiai Lukman.
Dukungan tersebut turut mengiringi proses pembangunan fisik pesantren. Sejumlah fasilitas kemudian berdiri, di antaranya gedung asrama putra dan putri, gedung Madrasah Aliyah dan Tsanawiyah, Madrasah Ibtidaiyah Terpadu, taman kanak-kanak, koperasi, klinik, kantin, mushala, serta fasilitas olahraga seperti lapangan basket, futsal, voli, dan kolam renang.
Namun, pembangunan Pesantren Al Hamid sejak awal tidak hanya diarahkan pada pembangunan fisik. KH Hamid Djiman juga menyiapkan sumber daya manusia yang kelak mengelola dan mengembangkan pesantren.
Putra-putrinya dikirim untuk menimba ilmu di sejumlah pesantren, antara lain Pondok Pesantren Tebuireng di Jombang, Pondok Pesantren Yanbu’ul Qur’an di Kudus, Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an di Malang, hingga kemudian memperdalam ilmu di Pondok Pesantren Al Falah Ploso, Mojo, Kediri.
Langkah tersebut memperlihatkan kuatnya hubungan antara Pesantren Al Hamid dan tradisi keilmuan yang berkembang di Pesantren Al Falah Ploso. Dalam perkembangannya, Pesantren Al Hamid menginduk dan memperoleh pengawasan langsung dari para pengasuh Pondok Pesantren Al Falah Kediri.
Setelah putra dan putri KH Hamid Djiman menyelesaikan pendidikan mereka di sejumlah pesantren tersebut, pada 2002 Pesantren Al Hamid mulai membuka penerimaan santri dan siswa untuk jenjang pendidikan TK, MI, MTs, dan MA.
Seiring berjalannya waktu, lembaga tersebut terus tumbuh. Yayasan Mantab Sejahtera kemudian berganti nama menjadi Yayasan Mantab Al Hamid pada 2007 berdasarkan Akta Notaris Nomor 77/17-12-2007. Tiga tahun kemudian, Pesantren Al Hamid terdaftar dengan Nomor Statistik Pondok Pesantren 510031750036.
Perkembangan itu terus berlangsung hingga Pesantren Al Hamid memiliki ribuan santri. Pada 2026, jumlah santri mencapai sekitar 1.800 orang, didukung 210 guru, 25 tenaga pendidik, dan sekitar 10.000 alumni. Pesantren ini kemudian berkembang menjadi salah satu wadah pendidikan dan kaderisasi santri NU yang diharapkan dapat meneruskan dakwah ke berbagai daerah di Indonesia.
"Alhamdulillah sampai saat ini jumlah santri baru mencapai 1800 orang. Mohon doa para kiai semoga Ponpes Al Hamid semakin maju dan semakin berkembang penuh dalam keberkahan," kata Kiai Lukman.
Perjalanan panjang tersebut kemudian membawa Pesantren Al Hamid pada sebuah momentum penting. Pada Selasa, 18 September 2026,, pesantren tersebut menjadi lokasi pembukaan Munas dan Konbes NU 2023. Ribuan ulama, kiai, serta pengurus NU dari berbagai daerah hadir dalam agenda tersebut.
Bagi pengelola pesantren, menjadi tuan rumah pembukaan Munas dan Konbes NU merupakan sebuah amanah besar. Sebelum menerima tanggung jawab tersebut, pihak pesantren terlebih dahulu meminta nasihat dan restu kepada sejumlah guru, di antaranya Romo Kiai Nurul Huda Jazuli dan Maulana Habib Luthfi.
"Maka dalam penugasan ini kami sowan kepada guru-guru kami di antaranya beliau Romo Kiai Nurul Huda Jazuli serta Maulana Habib Luthfi. Beliau-beliau inilah yang kemudian memberikan restu dan doa bagi kami dan keluarga di ponpes dalam menjalan tugas yang amat besar ini," jelas Kiai Lukman.
Dari keinginan Gus Miek untuk menghadirkan pesantren di Jakarta, amanah yang kemudian diteruskan KH Hamid Djiman, hingga dukungan Boy Thohir dalam proses pembangunannya, Pesantren Al Hamid tumbuh melalui perjalanan yang panjang.
Apa yang bermula dari sebuah keinginan seorang ulama dan ikhtiar seorang pengusaha itu kemudian berkembang menjadi lembaga pendidikan dengan ribuan santri. Bertahun-tahun setelah peletakan fondasi awalnya, Pesantren Al Hamid bukan hanya menjadi tempat menimba ilmu, tetapi juga menjadi ruang berkumpulnya para ulama dan pengurus NU dari berbagai penjuru Indonesia.
BERITA TERKAIT: