Harga Logam Dunia Bangkit Usai Aksi Borong di Level Rendah

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/reni-erina-1'>RENI ERINA</a>
LAPORAN: RENI ERINA
  • Sabtu, 10 Oktober 2026, 09:01 WIB
Harga Logam Dunia Bangkit Usai Aksi Borong di Level Rendah
Ilustrasi (Artificial Intelligence)
Kecil Besar
rmol news logo Pergerakan pasar komoditas global kembali bergairah di akhir pekan. Harga emas dunia resmi menyentuh level tertinggi dalam sepekan terakhir pada penutupan perdagangan Jumat 9 Oktober 2026. 

Kenaikan ini dipicu oleh aksi bargain buying atau memburu harga murah oleh para investor, setelah logam mulia tersebut sempat merosot ke titik terendahnya dalam dua bulan terakhir di awal pekan.

Berdasarkan data perdagangan, emas di pasar spot mencatat lonjakan sebesar 1,5 persen dan parkir di level 4.194,36 Dolar AS per ons. Capaian ini sekaligus membawa sang logam mulia mencatatkan penguatan mingguan di kisaran 1,3 persen.

Sebelumnya, tekanan sempat melanda pasar akibat penguatan Dolar AS serta kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (Treasury), yang membuat logam tanpa imbal hasil ini kehilangan daya tarik sesaat. 

Namun, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Desember berhasil bangkit dengan kenaikan 1,4 persen dan ditutup pada level 4.216,3 Dolar AS.

Di sisi lain, pergerakan harga emas juga sangat dipengaruhi oleh dinamika kebijakan bank sentral AS (The Fed) serta kondisi pasar obligasi.  Imbal hasil Treasury AS tenor 10 tahun terpantau melandai setelah sempat menyentuh level tertinggi dalam lebih dari dua dekade pada hari Rabu lalu. 

Presiden Fed St. Louis, Alberto Musalem, mengisyaratkan bahwa bank sentral mungkin perlu kembali menaikkan suku bunga demi mengembalikan inflasi ke target 2 persen.

Berdasarkan instrumen FedWatch milik CME, para pedagang saat ini memperhitungkan peluang sebesar 19 persen untuk kenaikan suku bunga pada bulan Oktober, serta probabilitas 84 persen untuk kenaikan minimal 25 basis poin pada bulan Desember.

Meski demikian, perhatian para pelaku pasar kini tertuju pada rilis data Indeks Harga Konsumen (CPI) AS pekan depan. Data tersebut diprediksi menjadi penentu arah tren berikutnya bagi pasar emas.

Di pasar fisik Asia, dinamika permintaan terpantau bervariasi. Permintaan emas di India dilaporkan cukup lesu seiring kembali pulihnya harga pasar. Sementara itu, aktivitas perdagangan di China terpantau sepi akibat periode libur panjang.

Tidak hanya emas, kinerja positif turut merembet ke sejumlah logam mulia lainnya pada perdagangan akhir pekan. Perak (Spot) naik 2,4 persen menjadi 60,77 Dolar AS per ons. Platinum melonjak signifikan sebesar 3,1 persen ke level 1.685,64 Dolar AS. Sedangkan paladium menguat 2,1 persen menjadi 1.146,39 Dolar AS. rmol news logo article
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google
EDITOR: RENI ERINA

FOLLOW US

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA