Kenaikan ini terjadi karena Dolar Amerika Serikat (AS )dan imbal hasil obligasi pemerintah AS atau US Treasury turun dari posisi tertingginya, sementara investor menunggu data tenaga kerja AS terbaru untuk melihat arah kebijakan suku bunga Bank Sentral AS atau The Fed.
Pergerakan positif ini turut dialami oleh berbagai logam mulia lainnya di pasar global.
Emas spot melonjak 1,1 persen menjadi 4.376,41 Dolar AS per ons, bangkit dari titik terendahnya sejak 7 Agustus.
Senada dengan itu, emas berjangka AS untuk kontrak Desember ditutup naik 0,4 persen menjadi 4.414,60 Dolar AS per ons.
Logam mulia lain juga mencatat penguatan, di mana perak spot naik 1,2 persen menjadi 65,03 Dolar AS per ons, platinum menguat 0,9 persen menjadi 1.756,39 Dolar AS per ons, dan palladium melambung paling tinggi sebesar 3,18 persen menjadi 1.352,74 Dolar AS per ons.
Pemulihan harga emas dipicu oleh melemahnya imbal hasil obligasi dan Dolar AS setelah sempat mencapai level tertinggi. Penurunan tersebut membuat emas kembali menarik bagi investor setelah sempat tertekan.
Selain faktor mata uang, pasar saat ini sangat fokus menunggu laporan data ketenagakerjaan nonfarm payrolls AS yang akan dirilis pada Jumat untuk memperkirakan langkah selanjutnya dari The Fed.
Berdasarkan alat pantau CME Group, pelaku pasar memperkirakan ada peluang 64 persen kenaikan suku bunga pada pertemuan The Fed bulan ini. Suku bunga yang lebih tinggi biasanya berdampak negatif bagi emas karena aset tersebut tidak memberikan hasil bunga.
Di luar dinamika pasar keuangan, bank sentral Belanda juga mengumumkan telah memindahkan 86 ton cadangan emasnya dari New York dan Ottawa ke London agar lebih mudah diperjualbelikan dan lebih siap menghadapi krisis.
BERITA TERKAIT: