Emas spot merosot 1,2 persen ke level 4.113,89 Dolar AS per ons pada penutupan Rabu 7 Oktober 2026 atau Kamis dini hari WIB, menyentuh posisi terendahnya sejak 5 Agustus. Sementara itu, emas berjangka untuk kontrak pengiriman Desember ditutup melemah 1,1 persen menjadi 4.140,70 Dolar AS per ons.
Tekanan ini terjadi karena Indeks Dolar AS menguat 0,4 persen, yang membuat emas kian mahal bagi pemegang mata uang lain. Di sisi lain, imbal hasil US Treasury 10 tahun melonjak ke level tertinggi dalam dua dekade.
Pasar memperkirakan Federal Reserve atau The Fed akan menahan suku bunganya pada bulan ini. Namun, peluang kenaikan suku bunga lanjutan pada Desember masih diperkirakan sekitar 85 persen. Sejumlah pejabat The Fed mengindikasikan bahwa suku bunga tinggi mungkin akan bertahan lebih lama guna meredam tekanan inflasi.
Meski tertekan, bank sentral China justru terus memborong emas sepanjang September, memperpanjang aksi beli beruntun hingga 23 bulan. Menurut Vice President Zaner Metals, Peter Grant, permintaan bank sentral ini masih menjadi penopang utama harga emas. Grant memproyeksikan harga emas berpotensi menguji level 4.000 Dolar AS sebelum kembali pulih menuju target 4.400 Dolar AS di akhir tahun.
Koreksi tajam juga melanda logam mulia lainnya di pasar spot. Perak anjlok 3 persen menjadi 59,86 Dolar AS per ons, platinum merosot 3,9 persen ke posisi 1.635,04 Dolar AS per ons, serta paladium ambles 4 persen menjadi 1.125,70 Dolar AS per ons.
BERITA TERKAIT: