Emas spot anjlok 1,9 persen ke level 3.984,64 Dolar AS per ons yang merupakan level terendah dalam dua pekan lebih.
Sementara emas berjangka AS kontrak Agustus melorot 1,5 persen ke posisi 3.992,10 Dolar AS per ons.
Tekanan hebat ini dipicu oleh lonjakan harga minyak mentah Brent akibat ancaman Iran terkait penutupan jalur Laut Merah.
Tingginya harga energi tersebut memicu kekhawatiran inflasi global baru, sehingga memperkuat ekspektasi pasar bahwa Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, bahkan membuka peluang kenaikan pada September sebesar 53 persen menurut FedWatch Tool CME Group.
Sentimen ini sukses mengerek imbal hasil US Treasury bertenor 10 tahun dan menguatkan Indeks Dolar AS (DXY) sebesar 0,2 persen, yang seketika mengikis daya tarik emas sebagai aset tanpa imbal hasil.
Kejatuhan ini tidak hanya dialami oleh emas, melainkan merembet ke seluruh sektor logam mulia lainnya yang ikut tersungkur dalam porsi yang lebih besar.
Harga perak spot menyusut tajam 3,6 persen menjadi 55,68 Dolar AS per ons, disusul oleh platinum yang anjlok 3,1 persen ke posisi 1.621,83 Dolar AS per ons.
Pelemahan terdalam dicatatkan oleh paladium yang terkoreksi hingga 4,1 persen menjadi 1.260,70 Dolar AS per ons.
Kombinasi dari mahalnya harga energi dan keperkasaan dolar AS membuat investor melepas kepemilikan komoditas logam mereka dan beralih ke mata uang paman sam, mengingat the Fed diprediksi sulit melonggarkan kebijakan moneter atau bersikap dovish dalam waktu dekat.
BERITA TERKAIT: