Pada penutupan perdagangan Selasa, 1 September 2026, indeks Dow Jones Industrial Average turun 418,97 poin atau 0,79 persen ke 52.766,93. S&P 500 melemah 0,71 persen menjadi 7.631,47, sedangkan Nasdaq Composite terkoreksi paling dalam, yakni 1,03 persen ke 26.099,77.
Tekanan terbesar terlihat di sektor teknologi dan saham-saham yang sensitif terhadap suku bunga. Indeks Philadelphia Semiconductor juga turun 2,1 persen, dengan seluruh saham komponennya berakhir di zona merah. Sementara itu, sektor energi menjadi salah satu yang menguat karena mendapat dorongan dari kenaikan harga minyak.
Sentimen negatif juga tercermin dari luasnya penurunan saham. Di Bursa Efek New York (NYSE), saham yang turun lebih banyak dibandingkan yang naik dengan rasio 2,8 berbanding 1. Di Nasdaq, sebanyak 3.523 saham melemah, berbanding 1.258 saham yang menguat.
Kondisi pasar diperburuk oleh kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS. Imbal hasil Treasury acuan terus meningkat setelah sebelumnya mencapai level tertinggi dalam 19 bulan. Kenaikan yield membuat saham menjadi kurang menarik karena investor memperkirakan suku bunga akan bertahan lebih tinggi.
Pasar kini juga semakin memperbesar taruhan terhadap kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) pada September. Berdasarkan CME FedWatch, peluang kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin dalam pertemuan September mencapai 68,2 persen, naik tajam dari 39,6 persen sepekan sebelumnya.
Kenaikan harga minyak menjadi faktor lain yang menekan pasar saham. Ketegangan di Timur Tengah meningkat setelah Amerika Serikat melancarkan serangan baru terhadap target Iran di sekitar Selat Hormuz. Kekhawatiran terhadap gangguan pasokan minyak global pun kembali meningkat.
Selain faktor geopolitik, sejumlah data ekonomi AS turut menunjukkan tanda-tanda perlambatan. Laporan JOLTS menunjukkan jumlah lowongan kerja pada Juli lebih rendah dari perkiraan, sementara aktivitas manufaktur dan pembangunan perumahan juga menunjukkan pelemahan.
Investor juga menghadapi faktor musiman. September secara historis menjadi salah satu bulan terburuk bagi pasar saham AS. Dengan Wall Street yang memulai bulan dalam tekanan, kenaikan yield obligasi, harga minyak yang melonjak, serta ketidakpastian geopolitik, ruang gerak investor untuk mengambil risiko menjadi semakin terbatas.
BERITA TERKAIT: