Peluang tersebut coba dikembangkan di Kota Banjar, Jawa Barat, melalui pemanfaatan affiliate marketing sebagai kanal pemasaran produk lokal.
Inisiatif itu digagas produk camilan lokal Makaroni Eneng (Menengs) bersama afiliator nasional Katabroto melalui Workshop Affiliate & Partnership di RM Selma, Kota Banjar.
Sekitar 150 peserta mengikuti kegiatan yang berlangsung pada Minggu 20 September 2026. Sebanyak 75 persen di antaranya merupakan warga Kota Banjar, sementara peserta lainnya datang dari Jakarta, Bandung, Bekasi hingga Jawa Tengah.
Owner Menengs Fatimah Azzahra mengatakan pelatihan tersebut tidak semata ditujukan untuk meningkatkan penjualan produknya, tetapi juga memperkenalkan cara memanfaatkan platform digital sebagai sumber pemasaran sekaligus peluang pendapatan.
“Dari 150 peserta, sekitar 75 persennya merupakan warga yang berdomisili di Kota Banjar. Diharapkan melalui pelatihan affiliate ini, masyarakat semakin memahami pemasaran secara online dan pada akhirnya dapat meningkatkan pendapatan melalui komisi dari penjualan produk,” ujar Fatimah, dalam keterangan yang dikutip redaksi, Senin 21 September 2026.
Menurutnya, kolaborasi antara pelaku usaha, afiliator, HIPMI dan pemerintah daerah dapat menjadi penggerak pemasaran produk lokal Banjar ke pasar yang lebih luas.
Ekosistem affiliate, kata Fatimah, tidak hanya dapat digunakan untuk memasarkan produk Menengs. Berbagai produk UMKM khas Banjar juga berpeluang diperkenalkan kepada konsumen di luar daerah hingga pasar nasional.
“Gerakan ini menjadi bagian dari komitmen Menengs dalam mendorong transformasi ekonomi daerah menuju era digital yang berdaya saing. Di tengah tantangan ekonomi, pemasaran online bisa menjadi salah satu alternatif bagi pelaku UMKM untuk menjangkau konsumen di luar Kota Banjar,” katanya.
Potensi tersebut menjadi semakin besar karena Kota Banjar memiliki sekitar 27.000 UMKM berdasarkan data pemerintah daerah yang disampaikan dalam kegiatan tersebut.
Kepala Bagian Perekonomian, Sumber Daya dan Pembangunan Setda Banjar Neneng Widya Hastuti mengatakan jumlah tersebut menunjukkan besarnya potensi produk lokal yang dapat dikembangkan melalui kanal digital.
“Banjar memiliki banyak potensi UMKM yang layak dipasarkan melalui affiliate. Menengs mengadakan pelatihan dan menghadirkan afiliator serta mentor berpengalaman. Ini menjadi terobosan yang positif,” ujar Neneng.
Ia berharap semakin banyak masyarakat memahami pemasaran digital sehingga produk UMKM Banjar memiliki akses pasar yang lebih luas.
“Dengan semakin banyak afiliator dan semakin banyak produk Banjar yang dipasarkan melalui affiliate, diharapkan memberikan multiplier effect. UMKM berkembang, aktivitas ekonomi masyarakat meningkat dan pada akhirnya dapat membuka lebih banyak peluang ekonomi,” katanya.
Mentor dalam kegiatan tersebut, Katabroto atau Hendra Permana Putra, membagikan pengalaman membangun penghasilan melalui ekosistem digital.
Sebelum menekuni affiliate marketing, Hendra pernah bekerja di sektor ritel, membangun usaha sendiri hingga mengalami kebangkrutan. Ia kemudian bekerja sebagai pengemudi ojek online sebelum mengenal dunia content creator dan affiliate marketing.
Sekitar 11 bulan terakhir, Hendra fokus menekuni affiliate dan membagikan pengalamannya kepada masyarakat yang ingin memanfaatkan platform digital sebagai peluang pendapatan tambahan.
“Semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk maju, baik afiliator maupun seller. Yang terpenting adalah kemauan untuk belajar, memahami strategi dan mengikuti aturan dalam berjualan sebagai afiliator,” ujar Katabroto.
Menurutnya, affiliate marketing dapat menjadi pilihan bagi masyarakat untuk memulai aktivitas pemasaran digital dengan kebutuhan modal yang relatif lebih rendah. Namun, peluang tersebut tetap membutuhkan konsistensi, kemampuan membuat konten serta pemahaman terhadap mekanisme dan aturan platform.
“Berstatus pengangguran pun bukan berarti tidak memiliki peluang. Dengan memanfaatkan handphone dan platform digital, seseorang bisa belajar membuat konten, mempromosikan produk dan memperoleh komisi dari penjualan. Tetapi semuanya tetap membutuhkan proses dan kerja keras,” katanya.
Melalui kolaborasi pelaku usaha, afiliator, komunitas, HIPMI dan pemerintah daerah, Menengs dan Katabroto mendorong terbentuknya ekosistem affiliate di Banjar.
Konsep “Kota Afiliat” tersebut diarahkan bukan hanya sebagai strategi pemasaran, tetapi juga sebagai sarana edukasi agar masyarakat mampu memanfaatkan teknologi digital untuk memperluas pasar dan menciptakan sumber pendapatan baru.
Dengan semakin banyak produk lokal yang masuk ke ekosistem tersebut, produk UMKM Banjar diharapkan tidak berhenti di pasar daerah, tetapi dapat menjangkau konsumen di berbagai wilayah Indonesia.
BERITA TERKAIT: