Athari Gauthi Ardi:

Keselamatan Warga Harus Diprioritaskan di Tengah Banjir Bandang Solok

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/ahmad-alfian-1'>AHMAD ALFIAN</a>
LAPORAN: AHMAD ALFIAN
  • Selasa, 22 September 2026, 11:51 WIB
Keselamatan Warga Harus Diprioritaskan di Tengah Banjir Bandang Solok
Anggota DPR RI Athari Gauthi Ardi. (Foto: Dok istimewa)
Kecil Besar
rmol news logo Anggota DPR RI Athari Gauthi Ardi menyampaikan keprihatinan mendalam atas bencana banjir bandang atau galodo yang menerjang kawasan Arosuka, Kabupaten Solok, Sumatera Barat, Senin malam, 21 September 2026.

Derasnya arus membawa material lumpur, batu, kayu, dan longsoran hingga menerjang Kompleks Perkantoran Pemerintah Kabupaten Solok serta menutup akses utama Solok-Padang. Imbasnya, pengendara untuk sementara diarahkan menggunakan jalur alternatif hingga kondisi jalan kembali memungkinkan untuk dilalui.

Menurutnya, langkah tanggap darurat perlu segera dilakukan, termasuk memastikan kondisi warga, membuka akses yang terputus, serta melakukan penanganan terhadap fasilitas publik yang terdampak.

“Yang paling utama saat ini adalah keselamatan masyarakat. Jangan sampai kita terlambat bertindak ketika warga masih menghadapi ancaman. Evakuasi, pertolongan, dan pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat harus menjadi prioritas bersama," ujarnya, Selasa, 22 September 2026.

Athari menegaskan, penanganan bencana tidak boleh hanya berfokus pada pembersihan material dan pemulihan infrastruktur. Menurutnya, kondisi warga yang berada di kawasan terdampak harus menjadi perhatian pertama.

“Saya meminta seluruh unsur yang terlibat untuk benar-benar memastikan tidak ada warga yang tertinggal, terutama anak-anak, lansia, perempuan, dan masyarakat yang membutuhkan pertolongan. Infrastruktur bisa kita bangun kembali, kantor bisa diperbaiki, jalan bisa dibersihkan. Tetapi keselamatan dan nyawa manusia tidak bisa digantikan.”

Ia juga meminta pemerintah daerah bersama BPBD, TNI, Polri, Basarnas, relawan dan seluruh unsur terkait memperkuat koordinasi di lapangan, termasuk melakukan penyisiran terhadap wilayah yang terdampak.

“Jangan anggap kondisi sudah aman hanya karena air mulai surut. Potensi banjir bandang atau longsor susulan harus diantisipasi. Masyarakat yang berada di titik rawan harus mendapatkan informasi yang jelas dan diarahkan ke tempat yang benar-benar aman.”

Athari mengatakan dirinya akan terus memantau perkembangan penanganan bencana di Arosuka dan berkoordinasi dengan pihak terkait agar kebutuhan masyarakat terdampak dapat segera ditangani.

“Saya akan ikut mengawal agar penanganan masyarakat terdampak tidak berhenti pada hari ini. Setelah fase evakuasi selesai, kita harus memastikan kebutuhan warga, pemulihan rumah, fasilitas umum, akses jalan, hingga pemulihan kehidupan masyarakat juga mendapat perhatian.”

Menurutnya, musibah yang terjadi di Arosuka merupakan momentum untuk memperkuat sistem mitigasi dan kesiapsiagaan bencana, khususnya di wilayah Sumatera Barat yang memiliki kerentanan terhadap banjir bandang dan longsor.

“Kita tidak ingin setiap bencana baru membuat kita kembali sibuk mencari solusi. Mitigasi harus diperkuat, titik-titik rawan harus dipetakan, sistem peringatan dini harus berjalan, dan masyarakat harus mendapatkan edukasi yang memadai. Keselamatan warga harus menjadi prinsip pertama dalam setiap kebijakan pembangunan.”

Hingga hari ini, tim gabungan masih melakukan penanganan dan pendataan dampak galodo. Laporan sementara menyebut sejumlah warga mengalami luka dan sekitar 100 rumah terdampak, sementara sejumlah fasilitas pemerintahan serta akses jalan juga mengalami kerusakan. Data tersebut masih dapat berubah seiring proses asesmen di lapangan. rmol news logo article
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google
EDITOR: AHMAD ALFIAN

FOLLOW US

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA