Kondisi tersebut membuat investor mengurangi eksposur pada aset berisiko, terutama saham teknologi dan perusahaan yang membutuhkan pembiayaan besar.
Dow Jones Industrial Average turun 328,09 poin atau 0,63 persen menjadi 52.093,11. S&P 500 terkoreksi 34,25 poin atau 0,45 persen ke 7.585,73, sedangkan Nasdaq Composite melemah 204,84 poin atau 0,78 persen menjadi 25.981,57.
Tekanan paling dalam terjadi pada sektor konsumer diskresioner, sementara sektor energi justru menguat 2,3 persen karena harga minyak melonjak. Saham teknologi dan semikonduktor juga masih tertekan. Indeks Philadelphia SE Semiconductor hanya naik 0,4 persen setelah sebelumnya jatuh tajam, di tengah kekhawatiran atas besarnya belanja AI dan penolakan terhadap pembangunan pusat data.
Saham kripto ikut terseret pelemahan pasar. Coinbase anjlok 10,1 persen dan Strategy turun 5,4 persen setelah Bitcoin melemah dan Senat AS tidak melanjutkan pembahasan undang-undang kripto komprehensif.
Dari pasar obligasi, imbal hasil obligasi pemerintah AS bertenor acuan menembus 5 persen, level tertinggi sejak 2007. Pada saat yang sama, kontrak berjangka WTI bulan depan melonjak 4,4 persen dan Brent naik 2,9 persen, sementara kontrak diesel ditutup pada rekor tertinggi. Lonjakan harga energi memperbesar kekhawatiran inflasi dan berpotensi membuat kebijakan moneter AS tetap ketat.
Tekanan terlihat luas di pasar saham. Di NYSE, saham yang melemah berbanding saham yang menguat mencapai 2,56 banding 1, sedangkan di Nasdaq mencapai 2,33 banding 1. Pasar juga memperkirakan peluang kenaikan suku bunga Federal Reserve sebesar 25 basis poin pada Rabu mencapai 94,5 persen, jauh di atas 33,1 persen sebulan sebelumnya.
BERITA TERKAIT: