Penguatan ini ditopang oleh data ketenagakerjaan AS yang jauh melampaui ekspektasi pasar, sekaligus meningkatnya permintaan terhadap aset safe haven di tengah ketidakpastian geopolitik global.
Berdasarkan laporan Biro Statistik Tenaga Kerja AS, jumlah lapangan kerja nonpertanian (nonfarm payrolls) pada Mei bertambah 172.000, jauh di atas perkiraan.
Data tersebut menunjukkan ketahanan ekonomi AS masih kuat dan memperkuat keyakinan pasar bahwa Federal Reserve (The Fed) belum akan terburu-buru menurunkan suku bunga.
Iindeks Dolar yang mengukur pergerakan Greenback terhadap sejumlah mata uang utama naik 0,63 persen pada perdagangan Jumat dan mencatat kenaikan sekitar 1,3 persen dalam sebulan terakhir.
Penguatan Dolar paling terasa terhadap Yen Jepang. Mata uang AS sempat menembus level 160,15 Yen per Dolar, menghapus seluruh penguatan Yen pasca intervensi pemerintah Jepang beberapa waktu lalu.
Di Eropa, Euro dan Poundsterling juga tertekan. Euro turun 0,75 persen ke level 1,152 Dolar AS, sementara Poundsterling melemah 0,64 persen menjadi 1,33 Dolar AS.
Tingginya harga energi dinilai masih menjadi tantangan bagi aktivitas ekonomi kawasan Eropa.
Di saat Greenback menguat, pasar kripto justru bergerak sebaliknya. Bitcoin anjlok 6,63 persen, ke 59.373 Dolar AS dan mencatat penurunan sekitar 19 persen sepanjang pekan.
BERITA TERKAIT: