Apindo: Dunia Usaha Tertekan di Kuartal II-2026

Ekonomi Tumbuh 5,29 Persen

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/alifia-dwi-ramandhita-1'>ALIFIA DWI RAMANDHITA</a>
LAPORAN: ALIFIA DWI RAMANDHITA
  • Rabu, 05 Agustus 2026, 15:54 WIB
Apindo: Dunia Usaha Tertekan di Kuartal II-2026
Ketua Umum Apindo, Shinta Kamdani. (Foto: RMOL/Alifia Dwi)
Kecil Besar
rmol news logo Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) mengapresiasi pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,29 persen secara tahunan (yoy) pada kuartal II 2026. 

"Kami tentu mengapresiasi data capaian pertumbuhan Q2 2026 yang mencapai 5,29 persen yoy. Ini adalah capaian yang sangat positif dan perlu kita pastikan agar dapat bertahan bahkan naik ke depannya hingga akhir tahun,"kata Ketua Umum Apindo Shinta Kamdani kepada RMOL pada Rabu 5 Agustus 2026.

Namun, di balik capaian tersebut, pelaku usaha mengaku menghadapi berbagai tekanan yang membuat aktivitas sektor riil belum sepenuhnya pulih di tengah ketidakpastian global.

"Dari sisi sektor riil, Q2 2026 merupakan kuartal yang berat karena banyak industri yang mengalami cost-push inflation imbas konflik di selat hormuz (kenaikan harga energi) dan efek pelemahan nilai tukar terhadap peningkatan beban biaya produksi dan bahan baku impor," kata Shinta.

Di saat yang sama, permintaan ekspor dari negara-negara mitra dagang Indonesia juga disebut melemah akibat dampak konflik geopolitik terhadap daya beli global. Selain itu, isu perdagangan seperti investigasi Amerika Serikat (AS) terhadap Indonesia turut membebani kinerja ekspor.

"Demand ekspor di Q2 juga turut terganggu karena isu perdagangan seperti investigasi AS terhadap Indonesia. Belum lagi, pasar domestik juga sempat mengalami perlambatan permintaan karena kenaikan harga BBM,” kata Shinta.

Kondisi tersebut, kata Shinta, membuat sejumlah pengusaha menahan ekspansi bisnis di kuartal II-2026.

“Jadi aktifitas ekonomi di sektor riil setidaknya yang dialami pelaku usaha sepanjang Q2 2026 cukup berat sehingga kurang mendukung adanya ekspansi kegiatan usaha," kata Shinta.

Namun demikian masih ada sejumlah industri yang mampu melakukan ekspansi meski jumlahnya belum banyak.

"Ini tidak berarti bahwa di sektor riil tidak ada industri yang ekspansi. Kami meyakini tetap ada, namun tidak banyak dan tidak menjadi trend industri yang ‘mainstream' karena disrupsi-disrupsi yang terjadi di sisi demand pasar maupun di sisi komponen supply dan biaya produksi," kata Shinta.

Menurut Shinta, kondisi tersebut tercermin dari Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur S&P yang baru kembali berada di zona ekspansi pada Juli dengan indeks 50,2 atau hanya sedikit di atas ambang batas ekspansi.

“Perlu dijaga momentumnya agar ke depannya pertumbuhan tersebut lebih solid dan lebih eksponensial untuk mendongkrak dan membalikkan trend industri yang sifatnya lebih defensif atau masih mengalami tekanan terhadap kondisi yang ada," pungkas Shinta.rmol news logo article
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google

FOLLOW US

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA