Kebijakan ini sukses menahan aksi jual deras terhadap Yen, namun di saat yang sama justru menekan nilai Dolar AS, menurunkan harga minyak, dan mengubah peta kekuatan mata uang dunia.
Dampak tekanan tersebut terlihat jelas pada Indeks DXY yang mengukur kekuatan Dolar AS terhadap enam mata uang utama, di mana indeks ini merosot 0,13 persen ke level 99,88 pada penutupan perdagangan Selasa 4 Agustus 2026 waktu setempat.
Pelemahan Dolar AS dipicu oleh keputusan Federal Reserve yang mempertahankan suku bunga acuan serta mencairnya sentimen geopolitik terkait konflik Iran.
Di pasar mata uang New York, Dolar AS sempat sedikit memulihkan diri terhadap Yen dengan naik 0,38 persen ke posisi 157,79 yen per Dolar AS, setelah Yen sebelumnya menyentuh level tertinggi dalam tiga bulan di 155,20.
Keputusan tak biasa Departemen Keuangan AS yang membeli Yen memakai mata uang Euro dinilai ampuh meredam spekulasi pasar tanpa melemahkan Dolar AS secara drastis.
Meski begitu, sang greenback tetap tak berkutik di hadapan mata uang utama dunia lainnya. Euro menguat 0,20 persen menjadi 1,1531 Dolar AS per Euro, sementara Poundsterling merangkak naik 0,13 persen ke level 1,3451 Dolar AS per Poundsterling.
Dolar AS juga menyerah dari Franc Swiss setelah terkoreksi 0,14 persen ke posisi 0,8092 Franc.
Terlepas dari guncangan intervensi ini, BNP Paribas menilai fundamental utama belum berubah dan memproyeksikan posisi Dolar AS terhadap Yen tetap berpeluang menguat hingga akhir tahun.
BERITA TERKAIT: