Indeks Dolar AS (DXY), yang mengukur kinerja greenback terhadap enam mata uang utama, naik 0,25 persen menjadi 99,97.
Penguatan tersebut memangkas sebagian pelemahan Dolar AS setelah Yen menguat tajam pascaintervensi dan sekaligus membuka peluang berakhirnya tren penurunan DXY dalam empat sesi perdagangan sebelumnya.
Di pasar spot, Yen menguat 0,18 persen menjadi 157,05 Yen per Dolar AS, level terkuat dalam sekitar tiga bulan. Yen juga menguat 0,45 persen terhadap Euro menjadi 180,78 yen per Euro.
Penguatan Yen terjadi setelah Kementerian Keuangan Jepang menegaskan bahwa Tokyo dan Washington telah melakukan intervensi terkoordinasi dengan membeli yen di pasar valuta asing. Kedua negara juga disebut tidak akan ragu mengambil langkah serupa jika diperlukan untuk menjaga stabilitas mata uang Jepang.
Data Bank of Japan menunjukkan Jepang kemungkinan menggelontorkan hingga 36,58 miliar Dolar AS dalam intervensi terbaru. Jika digabungkan dengan intervensi sebelumnya, total dana yang dikeluarkan Jepang untuk menopang Yen sepanjang tahun ini diperkirakan telah melampaui 100 miliar Dolar AS.
Keterlibatan Amerika Serikat menjadi perhatian utama pasar. Financial Times melaporkan Federal Reserve Bank of New York menjual Euro untuk membeli yen atas nama Departemen Keuangan AS melalui dua bank. Langkah tersebut dinilai dirancang agar intervensi tidak menimbulkan kesan bahwa Washington secara luas menginginkan pelemahan Dolar AS.
Sementara itu, Euro melemah 0,11 persen terhadap Dolar AS menjadi 1,15085 Dolar AS setelah sebelumnya mencapai 1,1559 Dolar AS, level tertinggi dalam sekitar satu setengah bulan. Poundsterling juga turun 0,39 persen menjadi 1,3429 Dolar AS.
Meredanya ketegangan geopolitik turut mengurangi permintaan terhadap aset safe haven seperti Dolar AS dan memberi ruang bagi yen serta mata uang utama lainnya untuk menguat.
BERITA TERKAIT: