Penguatan logam mulia ini terdorong oleh kombinasi pelemahan Dolar AS dan aksi technical buying, di tengah perhatian pasar yang tertuju pada eskalasi geopolitik Timur Tengah serta proyeksi suku bunga Federal Reserve (The Fed).
Harga emas spot melesat 1,7 persen menjadi 4.145,24 Dolar AS per ons setelah sempat menyentuh level tertinggi sejak 7 Juli di posisi 4.165,87 Dolar AS per ons mengutip laporan
Reuters.
Tren serupa terjadi pada kontrak berjangka AS pengiriman Agustus yang ditutup melonjak 1,9 persen ke posisi 4.151,90 Dolar AS per ons.
Aksi beli investor memanfaatkan koreksi harga sebelumnya serta depresiasi Indeks Dolar AS (DXY) menjadi bahan bakar utama yang membuat harga emas lebih terjangkau bagi pemegang mata uang lain.
Langkah menguat emas diikuti oleh jajaran logam mulia lainnya yang kompak mencatatkan kinerja positif. Perak spot melonjak 2 persen ke posisi 59,98 per ons, mendekati ambang psikologis baru. Platinum terangkat 0,7 persen menjadi 1.640,63 Dolar AS per ons.Paladium menanjak 1,4 persen ke level 1.299,47 Dolar AS per ons.
Lonjakan harga energi terpicu ketegangan di Laut Merah setelah empat kapal tanker minyak Arab Saudi tujuan Asia berbalik arah akibat ancaman kelompok Houthi. Kenaikan harga minyak ini berpotensi memicu inflasi, yang pada gilirannya berisiko menahan suku bunga tinggi lebih lama, sentimen yang biasanya menekan daya tarik emas sebagai aset tanpa imbal hasil.
Pasar kini mencermati arah kebijakan moneter AS. Kejelasan arah kebijakan ini ditunggu pelaku pasar pada rapat Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) pekan depan.
BERITA TERKAIT: