Mengutip data Bloomberg, rupiah ditutup turun 30 poin atau 0,17 persen ke level Rp18.027 per dolar AS.
Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan, pasar mengantisipasi perlambatan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2026 dibandingkan capaian 5,6 persen pada kuartal sebelumnya.
"Sikap hati-hati masih mewarnai pasar menjelang rilis data PDB kuartal kedua pada hari Rabu, mengingat pasar mengantisipasi pertumbuhan yang lebih lambat dibandingkan lonjakan 5,6 persen pada kuartal sebelumnya," kata Ibrahim dalam riset hariannya sore ini.
Menurutnya, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa juga telah memproyeksikan pertumbuhan ekonomi kuartal II-2026 akan berada di bawah 5,6 persen, namun tidak jauh dari 5,4 persen.
"Perlambatan ekonomi disebabkan oleh tekanan eksternal seperti harga minyak mentah yang tinggi, eskalasi geopolitik, dan capital outflow dari pasar keuangan domestik," kata Ibrahim.
"Pemerintah berencana mengeluarkan paket stimulus baru, termasuk insentif untuk kendaraan bermotor listrik berbasis baterai, untuk mendukung pertumbuhan ekonomi di semester II/2026," sambungnya.
Ibrahim juga menyoroti defisit neraca perdagangan Indonesia pada Juni 2026 sebesar 450 juta dolar AS serta menyusutnya cadangan devisa menjadi 145 miliar dolar AS.
"Ini artinya cadangan devisa RI telah turun hingga mencapai 11 miliar dolar AS," kata Ibrahim.
Selain menanti data pertumbuhan ekonomi, pelemahan rupiah, kata Ibrahim juga dipengaruhi penguatan indeks dolar AS yang dipicu ketidakpastian geopolitik.
"Presiden AS Donald Trump pada hari Minggu menyatakan bahwa ia menunda serangan baru terhadap Iran sembari menunggu perundingan yang sedang berlangsung untuk mengakhiri konflik dan menyelesaikan sengketa terkait kendali atas Selat Hormuz yang strategis," kata Ibrahim.
Namun, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei segera menepis klaim Trump tersebut dengan menyatakan bahwa tidak ada negosiasi yang sedang berlangsung dengan AS maupun pertemuan yang dijadwalkan.
Ia pun memprediksi pergerakan Rupiah pada Rabu 5 Agustus 2026 akan kembali melemah.
"Untuk perdagangan besok, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah direntang Rp18.030-Rp18.080," tandas Ibrahim.
BERITA TERKAIT: