Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Kamdani mengatakan, depresiasi rupiah menjadi guncangan eksternal yang memperberat kondisi dunia usaha, terutama sektor manufaktur yang masih bergantung pada bahan baku impor.
Menurutnya, pelemahan ini akan menambah tekanan terhadap biaya produksi dan arus kas perusahaan.
“Pelemahan rupiah secara langsung meningkatkan biaya impor, khususnya karena struktur industri nasional masih sangat bergantung pada bahan baku dari luar negeri,” ujar Shinta kepada
RMOL pada Jumat 15 Mei 2026.
Menurutnya, sekitar 70 persen bahan baku manufaktur masih berasal dari impor, dengan kontribusi bahan baku mencapai 55 persen dalam struktur biaya produksi. Sehingga setiap pelemahan rupiah, kata Shinta akan langsung mendorong kenaikan biaya dalam mata uang domestik.
“Dalam konteks ini, beban impor bahan baku memang terdampak secara relatif cepat, meskipun tingkat
pass-through ke harga akhir bervariasi tergantung sektor dan kondisi permintaan,” kata Shinta.
Tak hanya dari sisi produksi, tekanan juga dirasakan perusahaan yang memiliki kewajiban utang dalam valuta asing (valas).
“Penguatan dolar AS meningkatkan beban kewajiban dalam valuta asing, baik dari sisi pembayaran bunga maupun pokok utang," kata Shinta.
Shinta menambahkan, kondisi daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih membuat pelaku usaha tidak leluasa menaikkan harga produk untuk menutup lonjakan biaya produksi.
“Ini yang kemudian menekan margin dan mempengaruhi keputusan ekspansi maupun penyerapan tenaga kerja,” pungkas Shinta.
BERITA TERKAIT: