Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi menegaskan pihaknya tidak tinggal diam menghadapi gejolak di pasar keuangan.
Koordinasi intensif terus dilakukan antara Kementerian Keuangan, Bank Indonesia (BI), dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) guna memantau perkembangan serta menyiapkan langkah-langkah yang diperlukan untuk menjaga stabilitas ekonomi.
"Berkenaan dengan masalah rupiah, kami pemerintah dalam hal ini Kementerian Keuangan, kemudian Bank Indonesia, kemudian juga Otoritas Jasa Keuangan terus berkoordinasi secara intens untuk terus memonitor dan kemudian melakukan langkah-langkah," ujar Prasetyo dalam konferensi pers di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis, 4 Juni 2026.
Menurutnya, fluktuasi yang terjadi di pasar keuangan perlu disikapi secara proporsional. Ia menilai indikator utama perekonomian nasional masih menunjukkan kondisi yang relatif sehat, terutama dari sisi pertumbuhan ekonomi dan tingkat inflasi yang tetap terkendali.
"Tapi yang bisa kami sampaikan adalah bahwa kami harus yakin bahwa sesungguhnya fundamental ekonomi yang tergambar dari pertumbuhan ekonomi, kemudian dari inflasi yang masih terjaga InsyaAllah sesungguhnya kita memiliki fundamental ekonomi yang cukup kuat," tegasnya.
Pernyataan tersebut disampaikan di tengah tekanan yang semakin dalam terhadap pasar keuangan domestik.
Berdasarkan data Bloomberg, Rupiah pada perdagangan Kamis, 4 Juni 2026, melemah 0,35 persen ke posisi Rp18.028 per Dolar AS.
Level tersebut menjadi rekor terendah yang pernah dicapai Rupiah sejak pertama kali diperdagangkan.
Tekanan juga menjalar ke pasar saham. Hingga pukul 09.30 WIB, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) merosot 3,02 persen ke level 5.760,33.
Sebanyak 547 saham terkoreksi, sementara hanya 88 saham menguat dan 321 saham lainnya stagnan. Aktivitas perdagangan tercatat mencapai 397,9 ribu kali transaksi dengan volume 5,23 miliar saham dan nilai transaksi sebesar Rp3,38 triliun.
BERITA TERKAIT: