Penguatan ini, didorong oleh rilis data ekonomi yang memperkuat prospek suku bunga tinggi Federal Reserve.
Indeks Dolar (DXY), yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama, naik 0,37 persen ke posisi 98,83, menandai jalur penguatan harian terpanjang sejak akhir Maret.
Sentimen positif didukung oleh data penjualan ritel AS yang tumbuh 0,5 persen serta kondisi pasar tenaga kerja yang tetap stabil dengan klaim pengangguran di angka 211.000. Namun, lonjakan harga impor sebesar 1,9 persen, terbesar dalam empat tahun akibat kenaikan harga bahan bakar, memicu kekhawatiran inflasi baru.
Kondisi ini membuat pasar mulai menghapus ekspektasi pemangkasan bunga tahun ini, bahkan spekulasi kenaikan suku bunga pada Desember 2026 berdasarkan FedWatch Tool meningkat menjadi 36,9 persen.
Di pasar valas, penguatan Dolar menekan mata uang lain secara signifikan.
Euro melemah 0,29 persen ke posisi 1,1676 Dolar AS, sementara Poundsterling Inggris merosot tajam 0,94 persen menjadi 1,3395 Dolar AS akibat ketidakpastian politik domestik.
Terhadap Yen Jepang, Dolar AS menguat 0,22 persen ke level 158,19 di tengah spekulasi kebijakan ketat Bank of Japan.
Meski ada ketegangan geopolitik terkait Taiwan dan Selat Hormuz, Dolar tetap stabil di angka 6,786 versus Yuan China pasar offshore, seiring pemantauan investor terhadap KTT Trump-Xi Jinping.
BERITA TERKAIT: