Berdasarkan data Badan PuÂsat Statistik (BPS), tercatat lima komoditas impor yang mampu diproduksi di Indonesia tetapi masih juga diimpor. Pertama, buah-buahan. Tahun 2012 ada 789,5 ribu ton buah impor masuk ke Indonesia. Ternyata nilai noÂminal buah yang diimpor mencaÂpai 848,6 juta dolar AS atau seÂkitar Rp 8,1 triliun.
Kedua, batik. Meski batik terÂkenal sebagai kain tradisional asli Indonesia, tetapi keberadaannya di tanah air tidak sepenuhnya meÂruÂpakan karya anak bangsa. TerÂdapat sejumlah kain batik dan proÂduk jadi batik yang berasal dari China.
Ketiga, garam. SeÂpanÂjang 2012, Indonesia telah meÂngimpor gaÂram 2,2 juta ton dengan nilai yang mencapai 108 juta dolar AS. KeeÂmpat, singkong. Sepanjang 2012, impor singkong tercatat 13,3 ribu ton atau senilai 3,4 juta dolar AS.
Kelima, beras. Tahun 2012, imÂpor beras mencapai 1,8 juta ton deÂngan nilai 945,6 juta dolar AS. Negara terbesar yang memasok beras ke tanah air adalah Vietnam dengan total 1,1 juta ton senilai 564,9 juta dolar AS. Selain itu, Thailand 315,4 ribu ton dengan nilai 186,2 juta dolar AS.
Ketua Umum Asosiasi PenguÂsaha Indonesia (Apindo) Sofjan Wanandi mengatakan, barang impor yang membanjiri IndoneÂsia membuat kewalahan penguÂsaha lokal. Pasalnya, dengan harÂga barang impor yang murah, barang lokal sulit bersaing.
Para pelaku usaha mengaku tiÂdak bisa memproteksi masukÂnya barang-barang murah karena keÂtidakmampuan produk lokal unÂtuk berkompetisi. “Bagaimana cara mencegah, barangnya di sini tidak cukup ya terpaksa impor,†katanya.
Sofjan menuturkan, mahalnya barang lokal itu salah satunya diÂpicu masalah infrastruktur transÂportasi. Terutama karena harus menempuh jalan rusak atau jalan yang sempit. Sedangkan jaÂlan tol trans pulau atau dalam puÂlau belum selesai.
“Mahalnya produk kita juga kaÂrena kesalahan kita sendiri yang
high cost economy, infraÂstrukÂtur kita juga tidak ada. SeÂmua ini kaÂrena kebijakan yang salah dari peÂmerintah. PemeÂrinÂtah cuma cari popularitas saja. Ini yang terjadi selama ini dan sudah seharusnya diubah. Kalau tidak, ya kita akan ketinggalan terus,†sentil Sofjan.
Sofjan berharap, pemerintah dapat mengantisipasi mahalnya barang lokal dibanding impor. Selain menekan laju impor baÂrang, produktivitas dan kualitas barang lokal tetap digenjot.
Wakil Menteri Keuangan (WaÂmenkeu) Anny Ratnawaty meÂngÂimbau masyarakat IndoÂnesia muÂlai mengurangi konsumÂsi produk impor.
“Misalnya, kalau beli buah yang lokal saja. Tapi mahal? MaÂhalnya karena jeruk Medan baru dipaÂnen, kalau yang impor kan sudah disimpan berapa lama. Kalian juga suka nawar tidak kiÂra-kira di tukang buah, tapi sama swalayan kita tidak tawar,†ujar Anny.
Selain itu, kata Anny, perlunya peÂngalihan komponen impor ke domestik untuk industri dalam negeri. Selain mengurangi impor, juga bisa mengembangkan indusÂtri lain.
Menurut Anny, kementerian teknis, yaitu Kementerian PerdaÂgangan (Kemendag) dan KemenÂterian Perindustrian (KemenÂpeÂrin) memetakan industri-inÂdustri mana yang bahan bakunya bisa diganti dari impor ke domesÂtik. Selain itu, perlunya perubaÂhan sistem pembayaran ekspor.
Saat ini, lanjut Anny, sistem pembayaran yang diterapkan antar eksportir dan importir tidak seÂjenis. Eksportir luar negeri meneÂrapkan sistem
Cost InsuranÂce and Freight (CIF) di mana piÂhak eksÂportir bertanggung jawab juga terÂhadap biaya pengiriman samÂpai pelabuhan negara tujuan serta meÂnanggung asuransinya.
Sementara eksportir dari IndoÂnesia menggunakan sistem
free on board, di mana eksportir hanya berÂtanggung jawab sampai barang berada di atas kapal (
vessel).
“Apakah kita punya
bargainÂing position waktu mengatakan impornya jangan CIF dong. Atau kalau dia CIF, kita ekspor CIF juga sehingga terjadi perlakuan kesetaraan,†pungkasnya. [Harian Rakyat Merdeka]
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google
BERITA TERKAIT: