Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhammad Nuh membantah adanya penyimpangan dalam proyek pengadaan laboratorium di 16 Perguruan Tinggi Negeri (PTN). Namun, Badan Akuntabilitas dan Keuangan Negara (BAKN) DPR menemukan adanya potensi kerugian negara dalam proyek tersebut.
KOMISI Pemberantasan KoÂrupsi (KPK) diminta untuk memÂbongkar kasus tersebut. BirokraÂsi anggaran di KemenÂdikÂbud pun harus direformasi. Sebab, peÂngaÂÂwasan anggaran diÂnilai leÂmah dan rawan penyimÂpangan.
Anggota BAKN DPR dari FrakÂsi PDIP Eva Kusuma SunÂdari menuturkan, hasil pemeÂrikÂsaan BAKN terhadap audit BPK menunjukkan adanya kerugikan negara dalam proyek pengadaan laboratorium di 16 PTN di InÂdonesia. Namun, Eva enggan meÂnyebutkan berapa besar jum-lah kerugian negara tersebut.
“BAKN telah menyerahkan audit BPK ke KPK untuk ditinÂdakÂlanjuti secara hukum. BirokÂrasi Kemendikbud dinilai buruk dan mesti dibenahi sebelum paÂgu angÂgaran tahun depan direaÂliÂsaÂsikan,†kata Eva kepada RakÂyat Merdeka, kemarin.
BAKN berharap, Komisi X DPR bidang Pendidikan memÂperketat pengawasan sekaligus memperbaiki manajemen perenÂcaÂnaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang berÂÂkaitan dengan dana PTN dan lainÂnya. Apalagi, dana penÂdiÂdiÂkan tahun depan sangat besar.
“Potensi penyimpangan dana pendidikan sangat besar kalau biÂrokrasi anggaran KemendikÂbud tidak segera dibenahi dan itu menÂjadi tanggung jawab berat Pak Nuh untuk membenahinya ke depan,†warning Eva.
Ketua Komisi X DPR bidang PenÂdidikan Agus Hermanto meÂngaÂtakan, meskipun kasus 16 PTN munÂcul tahun 2008, MenÂteri Nuh tetap harus berÂtangÂgung jawab seÂcara institusi untuk meÂnyelesaikan masalah tersebut.
“Kalau ada bekas atau petingÂgi yang masih aktif di KemenÂdikÂbud terlibat, mereka mesti memÂperÂtangÂgungjawabkan seÂcara hukum tanpa tebang pilih,†tegas Agus.
Anggota Komisi X DPR RaiÂhan Iskandar menambahkan, piÂhak kampus yang diduga terlibat mesti diperiksa untuk membantu proses penyelesaian kasus terseÂbut. Diduga kuat, ada kongkaÂliÂkong antar instansi KemendikÂnas deÂngan manajemen kampus daÂlam pengaÂdaan proyek.
“Kemendikbud harus membeÂnaÂhi sistem dan mekanisme dana hibah ke PT supaya bisa tepat saÂsaÂÂran Âdan tak mengganggu aktiÂviÂtas belajar. Pengawasan dan biÂroÂkrasi yang sehat akan menÂdoÂrong kemajuan pendidikan naÂsional yang baik,†saran Raihan.
Inspektur Jenderal (Irjen) KeÂmendikbud Haryono Umar meÂngaÂÂtakan, proses permintaan taÂta kelola pengadaan barang dan jasa yang direkomendasikan BAKN terÂhadap 16 PTN, tingÂgal 20 perÂsen lagi. Hal itu dikaÂrenakan beÂlum rampungnya seÂjumlah adÂmiÂnistrasi di masing-masing kampus.
“Ke 16 PTN yang diduga ada kongÂkalikong sebagian sudah meÂnyerahkan laporan sistem peÂngelolaannya dan sedang dipeÂrikÂsa, apakah ada penyimpangan atau tidak,†jelas Haryono.
Ia menegaskan, piÂhakÂnya tidak menemukan kasus pengÂgelemÂbungan anggaran dan peÂngaturan tender di PTN tersebut. [Harian Rakyat Merdeka]
BERITA TERKAIT: