Pada 1808, Napoleon Bonaparte mengirim pasukan Prancis melintasi Pegunungan Pyrenees untuk menduduki Spanyol. Ambisinya adalah memperluas kekuasaan Kekaisaran Prancis di Eropa melalui Semenanjung Iberia.
Namun yang semula diperkirakan sebagai operasi militer singkat justru berubah menjadi perang berkepanjangan. Perlawanan rakyat Spanyol, yang didukung Inggris dan Portugal, membuat Perang Semenanjung berlangsung hingga 1814 dan menjadi salah satu titik awal kemunduran kekuasaan Napoleon.
Lebih dari dua abad kemudian, Prancis dan Spanyol kembali dipertemukan. Kali ini bukan membawa meriam, melainkan daftar susunan pemain. Seragam militer berganti jersey, kuda perang berganti bus tim, dan yang paling melegakan, suporter cukup mengangkat syal, bukan mengangkat senjata.
Walaupun melihat panasnya duel nanti, mungkin masih ada yang berteriak lebih keras kepada wasit daripada kepada tetangganya sendiri.
Tentu, ini bukan Perang Semenanjung jilid dua. Tidak ada benteng yang harus direbut atau kota yang harus dikepung. Medan tempurnya kini adalah stadion dengan hamparan rumput hijau.
Senjatanya bukan bayonet, melainkan umpan terukur, sprint mematikan, dan tendangan yang bisa mengubah nasib satu negara dalam hitungan detik.
Di kubu Prancis berdiri Kylian Mbappé. Ia bukan lagi bocah ajaib yang mengejutkan dunia pada Piala Dunia 2018, melainkan pemimpin Les Bleus yang sudah terbiasa memikul tekanan.
Kalau Napoleon dulu memimpin pasukan berkuda, Mbappé cukup sekali berlari mengejar bola, bek lawan biasanya langsung sibuk mencari tombol pause yang ternyata tidak ada di dunia nyata.
Di seberang lapangan, Spanyol datang bersama Lamine Yamal. Usianya masih sangat muda, tetapi keberaniannya membuat banyak pemain senior terlihat seperti sedang menghadapi ujian mendadak.
Setiap kali bola menempel di kakinya, bek lawan mulai berharap ada teman yang datang membantu. Kalau tidak, yang tertinggal bukan hanya posisi, tetapi juga harga diri.
Karena itulah semifinal ini terasa jauh lebih besar daripada sekadar perebutan satu tiket menuju final. Ini adalah benturan dua generasi, dua filosofi, dan dua cara memandang masa depan.
Prancis ingin membuktikan bahwa mereka masih menjadi penguasa sepak bola dunia. Spanyol datang membawa keyakinan bahwa era emas berikutnya sudah dimulai.
Kalau melihat performa sepanjang turnamen, Prancis memang sedikit lebih diunggulkan. Mereka lebih matang, lebih berpengalaman, dan punya pemain-pemain yang sudah berkali-kali tampil di laga dengan tekanan tinggi.
Namun justru di situlah letak bahayanya. Tim muda seperti Spanyol sering kali bermain tanpa rasa takut. Mereka tidak terlalu peduli pada statistik, rekor, atau status lawan. Yang mereka tahu hanya satu: bola itu bulat, dan gawang lawan tetap lebarnya 7,32 meter.
Prediksi saya, Prancis akan menang tipis 2-1. Mbappé berpeluang kembali menjadi pembeda dalam pertandingan yang kemungkinan berlangsung ketat hingga menit-menit akhir.
Namun jika laga berlanjut ke babak tambahan waktu, jangan buru-buru mematikan televisi. Piala Dunia sudah terlalu sering mengajarkan bahwa naskah paling gila biasanya ditulis setelah menit ke-90.
Sejarah memang tidak pernah benar-benar berulang. Napoleon tidak akan muncul di tribun stadion, dan para pejuang gerilya Spanyol tidak akan melakukan
high pressing dari sisi kiri. Namun sejarah sering menemukan cara baru untuk menghadirkan rivalitas lama dalam wajah yang berbeda.
Saat peluit pertama dibunyikan, semua catatan sejarah akan berhenti sejenak. Yang menentukan bukan lagi strategi perang, melainkan strategi pelatih. Yang diperebutkan bukan wilayah kekuasaan, melainkan satu tempat di final Piala Dunia.
Dan kalau nanti Prancis benar-benar menang, itu bukan karena Napoleon kembali memimpin pasukan.
Kalau Spanyol yang lolos? Mungkin ada sejarawan yang diam-diam berbisik, "Akhirnya... setelah 218 tahun, Semenanjung Iberia membalasnya. Walaupun kali ini hadiahnya bukan kerajaan, melainkan tiket final Piala Dunia."
Dan semoga saja, siapa pun yang kalah, tidak ada yang mengusulkan VAR dibawa ke Kongres Wina untuk mengajukan banding hasil pertandingan.
*Pemain bola kampung
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google
BERITA TERKAIT: