Kenaikan ini dipicu meningkatnya ketegangan antara AS dan Iran setelah Washington kembali memberlakukan blokade angkatan laut terhadap Iran, yang memicu kekhawatiran terganggunya pasokan minyak melalui Selat Hormuz.
Pada penutupan perdagangan, harga minyak mentah Brent naik 1,43 Dolar AS atau 1,7 persen menjadi 84,73 Dolar AS per barel, sedangkan minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik 1,20 Dolar AS atau 1,5 persen ke 79,34 Dolar AS per barel. Ini merupakan penutupan tertinggi Brent sejak 12 Juni dan WTI sejak 15 Juni.
Kenaikan harga terjadi karena pasar khawatir pasokan minyak global akan semakin terganggu. Sebelum konflik pecah, sekitar 20 persen pasokan minyak dunia melewati Selat Hormuz, sehingga setiap gangguan di jalur tersebut langsung memengaruhi harga energi global.
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump membatalkan rencana mengenakan pungutan keamanan sebesar 20 persen bagi kapal yang melintasi Selat Hormuz. Sebagai gantinya, ia memilih mendorong kesepakatan investasi dengan negara-negara Teluk.
Namun, situasi kembali memanas setelah Iran dilaporkan menembakkan rudal jelajah yang menghantam dua kapal tanker minyak milik Uni Emirat Arab, menewaskan satu awak kapal asal India dan melukai delapan lainnya. Insiden tersebut memicu kembali kekhawatiran bahwa konflik akan terus mengganggu pasokan energi dunia.
Selain konflik di Timur Tengah, pasar juga mencermati gangguan pasokan diesel dari Rusia setelah Ukraina menyerang dua kilang minyak di wilayah Bashkortostan dan Krasnodar. Serangan tersebut membuat ekspor diesel Rusia menyusut sehingga harga diesel global melonjak.
BERITA TERKAIT: