Lukisan Historis Denny JA Diestimasi Capai Harga Rp34 Miliar

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/adityo-nugroho-1'>ADITYO NUGROHO</a>
LAPORAN: ADITYO NUGROHO
  • Jumat, 01 Mei 2026, 02:25 WIB
Lukisan Historis Denny JA Diestimasi Capai Harga Rp34 Miliar
Lukisan karya Denny JA tentang seorang Paus mencuci kaki rakyat kecil. (Foto: Dokumentasi Denny JA)
rmol news logo Sebuah lukisan karya Denny JA yang dilaporkan menerima berkat dari Pope Francis dalam sebuah peristiwa spontan di depan Galeri Nasional Jakarta pada September 2024 yang diperkirakan memiliki nilai hingga Rp34 miliar. 

Estimasi ini disusun melalui pendekatan skenario pasar berbasis analisis kecerdasan buatan dan perbandingan transaksi karya seni religius di lelang internasional.

Analisis tersebut disampaikan oleh akademisi sekaligus pengamat budaya Dr. Satrio Arismunandar. Ia mengkaji peristiwa ini melalui perspektif sejarah, sosiologi seni, dan ekonomi simbolik.

“Berdasarkan dokumentasi dan kesaksian yang tersedia, peristiwa terjadi saat iring-iringan Paus melintas di depan Galeri Nasional. Kendaraan melambat, dan sebuah lukisan karya Denny JA yang tengah dipamerkan diangkat oleh seorang pendeta bernama Sylvana,” kata Satrio dalam keterangan yang diterima redaksi di Jakarta, Kamis, 30 April 2026.

Lanjut dia, lukisan tersebut menampilkan adegan simbolik seorang Paus mencuci kaki rakyat kecil, yang dalam tradisi Injil merepresentasikan kerendahan hati.

Paus kemudian membuka jendela kendaraan, menyapa, mendoakan, dan memberikan berkat kepada lukisan tersebut.

Peristiwa ini berlangsung singkat dan tidak direncanakan. Dokumentasi visual dan saksi tambahan masih menjadi bagian penting untuk penguatan validasi historis ke depan.

Menurut Satrio, peristiwa tersebut berpotensi meningkatkan nilai karya melalui apa yang dalam kajian sosiologi seni disebut sebagai symbolic elevation, yaitu perubahan status karya akibat keterkaitannya dengan peristiwa historis.

“Dalam konteks ini, lukisan tersebut memuat beberapa dimensi nilai (antara lain) karya seni visual, simbol religius, artefak yang terkait peristiwa dan narasi lintas iman,” jelasnya.

Satrio menyebut pendekatan ini sejalan dengan konsep kapital simbolik yang diperkenalkan oleh Pierre Bourdieu, yang menekankan bahwa nilai karya tidak hanya ditentukan oleh aspek estetika, tetapi juga oleh konteks sosial dan historis yang melekat.

“Estimasi disusun menggunakan pemodelan berbasis AI dengan membandingkan data lelang karya bertema religius di rumah lelang internasional seperti Sotheby’s dan Christie’s pada periode 2015 hingga 2024. Estimasi ini bersifat indikatif dan memerlukan validasi lebih lanjut oleh penilai independen bersertifikat,” ungkapnya.

“Skenario khusus pembeli hingga 2 juta Dolar AS, sekitar Rp34 miliar. Nilai tertinggi sangat bergantung pada faktor non-pasar umum, termasuk keterikatan emosional, religius, dan relevansi narasi bagi pembeli tertentu,” tambah Satrio.

Lukisan ini menunjukkan bagaimana sebuah karya dapat mengalami peningkatan makna ketika terkait dengan peristiwa yang memiliki dimensi historis dan simbolik.

“Di luar potensi nilai ekonomi, karya ini juga mencerminkan peran seni sebagai medium yang dapat menjembatani perbedaan dan menghadirkan ruang dialog lintas budaya dan iman,” pungkasnya. rmol news logo article


Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA