Rembesan Air Masih Deras

Tanggul Yang Bocor Ditutup Karung Pasir & Cerucuk

Sabtu, 06 April 2019, 08:10 WIB

Foto/Net

Lagi-lagi, banjir akibat luapan Kali Pulo, melanda Kampung Air, Kelurahan Jatipadang, Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Tanggul kali itu bocor akibat derasnya debit air akhir pekan lalu. Puluhan rumah warga di tiga RT terendam.

 Rabu (3/4) menjelang sore, Kasni, mengumpulkan beberapa sampah bekas banjir di sekitar di wilayah RW 6, Kelurahan Jatipadang. Sampah-sampah itu, ke­mudian dikumpulkan di sebuah kebun pisang, yang tanahnya masih lunak, dan berlumpur. Setelah terkumpul agak banyak, sampah-sampah itu dibakar.

Sampahnya macam-macam. Ada ranting-ranting pohon, alat rumah tangga, hingga pakaian. Termasuk beberapa lembar pak­aian anak-anaknya yang rusak akibat banjir. Beberapa masih lembab. Sehingga sulit terbakar. Perlu waktu hampir setengah jam hingga api menyala cukup besar, dan menghasilkan asap yang cukup menyengat hidung.

Tak jauh dari tempat Kasni membakar sampah, Indah tam­pak sedang merapikan sejumlah barang dagangannya. Di kontra­kannya yang berukuran sekitar 3 x 8 meter persegi, Indah menjual mainan anak. Barang dagangan itu diletakkan di teras, dan juga ruang tamu kontrakannya.

Baru hari itu dia sempat mer­apikan lagi dagangannya. Dia baru saja pulang dari lokasi pen­gungsian. Persis tiga hari setelah 'air bah' menerjang kontrakan­nya. Pintu kontrakannya, hanya berjarak kurang dari tiga meter dari bibir Kali Pulo.

Waktu Kasni dan Indah, me­mulai lagi aktivitasnya terbilang sama. Tiga hari seusai banjir. Mereka beralasan, menunggu saat yang tepat untuk kembali ke tempat tinggalnya. Musim pen­ghujan masih berlanjut. Mereka takut tanggul jebol lagi.

"Kalau hujan deras, mendin­gan ngungsi," kata Indah.

Hari itu, hujan dengan inten­sitas sedang terjadi di hampir seluruh Jakarta. Untungnya, Kali Pulo masih aman. Debit air tidak tinggi. "Arusnya kelihatan lebih tenang daripada saat banjir," sambung Indah.

Indah semakin tenang, karena tanggul yang bocor sudah ditam­bal. Puluhan karung berisi pasir, serta cerucuk, menutup lubang tanggul. Namun tetap saja, rembesan air dari kali, masih tampak mengalir keluar. Bahkan, rembesan itu membentukaliran air baru selebar satu meter.

Meski tenang, Indah tetap waspada. Dia harus tetap siap jika debit air Kali Pulo meningkat, dan arusnya semakin deras. Maklum, tanggul yang bocor masih rentan. Soalnya, cuma ditutup karung pasir. Dia berharap, tanggul bisa diperte­bal menggunakanbeton. "Biar kuat," ucapnya.

Namun, Kusni punya penda­pat berbeda. Menurutnya, mem­bangun tanggul dengan beton super kuat sekalipun, tidak akan menyelesaikan masalah banjir di bantaran Kali Pulo. Dia bilang, solusi yang paling tepat adalah melakukan normalisasi. Atau paling tidak, bagian hilir kali itu diperlebar.

Hal itu bukan tanpa alasan. Lebar Kali Pulo di tempat tanggulyang bocor terkhir, me­mang masih cukup memadai. Lebarnya empat sampai lima meter. Namun, makin ke hilir, Kali Pulo makin menyempit. Bahkan, hampir menghilang, dengan lebar maksima hanya sekitar satu meter.

"Kalau boleh dibilang, lebih mirip got daripada kali," ujar Kusni.

Di bagian hilir, jarak bangu­nan dengan kali semakin rapat. Bahkan, ada yang bangunan rumahnya berada di atas kali. Makanya, sambung Kusni, pem­bangunan tanggul hanya solusi sementara. "Kalau mau, ya seka­lian, dinormalisasi," ucapnya.

Kusni mengaku ikhlas jika ru­mahnya yang berada di bantaran Kali Pulo dibebaskan untuk nor­malisasi. Namun, dia menolak jika Pemprov memindahkannya ke rumah susun (rusun). Dia ingin Pemprov DKI memberi­kan uang sebagai kompensasi bangunan yang telah mereka huni puluhan tahun itu. Apalagi, rumahnya memiliki sertipikat resmi. "Kasih uang saja, saya tentukansendiri tempatnya," ucap Kusni.

Senada, Dani warga lainnya,menunggu langkah konkritPemprov DKI. Katanya, Pemprov berjanji akan memindah­kan enam KK dari pinggir kali pada Februari 2018. Namun janji itu belum teralisasi, hingga tanggul kembali jebol pada Minggu (31/3).

"Ayo tolong relokasi kami ke mana," kata Dani.

Dani mengaku bingung men­gapa janji itu belum terealisasi. Padahal, saat itu, Dani bilang Pemprov menjanjikan uang ganti rugi atas rumah warga yang memiliki sertipikat. Sedangkan warga yang tidak memiliki sertipikat, akan diberikan uang sukarela dari pemerintah.

Karena janji itu, dia menya­takan bersedia meninggalkan rumah yang telah 20 tahun di­huni. "Kita setuju pada saat itu. Apa mau nunggu korban jiwa?" tuturnya

Lebih lanjut, banjir yang terja­di di wilayah itu sudah terjadi se­jak 10-12 tahun lalu. Sayangnya, upaya penanggulangancuma meninggikan tanggul.

"Tinggikan tanggul nanti ka­lau jebol lagi baru ribut datang," imbuhnya.

Dia menuturkan, usai banjir, keluarganya memilih untuk menyewa rumah lain. Dia tidak mau anak-anaknya tidak mengalami trauma. Soalnya, rasa was-was selalu datang apabila hujan mulai turun.

"Saya punya rumah resmi akhirnya jadi milih ngontrak untuk anak-anak," bebernya.

Arief Syarifuddin, Ketua RW setempat mengatakan, cukupbanyak warga sekitar Jati Padang, yang membangun rumah di bantaran dan di atas Kali Pulo. Arief pun berharap Pemprov DKI segera melaku­kan normalisasi. Arief menjelas­kan, ratusan bangunan permanen di bantaran dan di atas Kali Pulo sudah lama berdiri.

Awalnya warga mendirikan rumah di bantaran. Namun, sekitar tahun 2010 makin banyak yang mendirikan tempat ting­gal di atas kali. Pada tahun itu, Arief mengaku belum menjabat sebagai Ketua RW.

"Makanya Pak Gubernur me­nanyakan, ini RT-RW kok bisa mengizinkan," kata Arief.

Arief mengungkap, ada se­bagian warga yang memiliki sertifikat hak milik (SHM). Dia pun mempertanyakan hal itu. Karena, seharusnya tidak ada legalitas kepemilikan lahan bagi warga yang mendirikan bangunan di bantaran dan di atas kali.

Dia pun menampik jika sela­ma ini dikatakan diam. Katanya, dia pernah menegur warga yang mendirikan bangunan di ban­taran dan di atas kali. Namun tegurannya tak menghasilkan apa-apa.

"Pada saat kita mau gusur istilahnya, warga minta ganti untung bukan ganti rugi," ujar Arief.

Latar Belakang
Sudah Ada Sodetan Kenapa Masih Jebol Juga


 Banjir kembali terjadi di Jatipadang pada Minggu (31/3). Sama seperti banjir-banjir sebe­lumnya, banjir kali inidisebab­kan Kali Pulo yang meluap dan tanggul jebol.

Sebanyak tiga RT, 3, 4 dan 14 di RW 6, Kelurahan Jatipadang, diterjang oleh luapan air yang masuk dari bawah tanggul. Menurut Ketua RW 6, Arif Sarifudin, tanggul tak kuat membendung air, dan air yang mengalir deras dari tanggul masuk dari celah bawah tanggul.

Menurut Arief, pengerjaan tanggul oleh dinas terkait tidak dari bawah. Sehingga air deras masuk melalui celah bawah dan membanjiri permukiman warga. "Harus ada langkah yang konkrit supaya nggak jebol-jebol terus," katanya.

Di sisi lain, upaya penanganan banjir di bantaran Kali Pulo sudah dilakukan. Salah satu­nya, dengan membuat sodetan, dari kali itu, menuju saluran penghubung. Aliran Kali Pulo, yang berada di RW 9, Kelurahan Jatipadang, Pasar Minggu, jadi lokasi kali itu disodet.

Lokasi sodetan berada di Gang Haji Yusuf. Tak mudah menemu­kannya. Karena, lokasinya be­rada di pemukiman yang cukup padat. Jaraknya, lebih 50 meter dari jalan raya.

Dari pengamatan Rabu (27/2), sodetan sudah rampung. Dinding-dindingnya dibuat semacam turap. Menggunakan adukan se­men dan pasir. Dihaluskan. Ada pintu airnya. Tapi masih semen­tara. Pakai kayu. Nantinya, pintu airnya akan memakai besi.

Sodetan yang menempel denganKali Pulo, lebarnya tidak terlalu besar. Tak sampai satu meter. Sodetan itu memanjang hingga saluran penghubung, yang sebelumnya sudah ada. Panjangnya sekitar 70 meter. Menembus bangunan-bangunan pemukiman di sekitarnya.

Kondisi Kali Pulo di lokasi sodetan, terlihat cukup baik, jika dibandingkan dengan di lokasi tempat dinding turap jebol beberapa pekan lalu. Lebarnya hampir mencapai lima meter. Posisinya pun tak terjepit pemukiman. Hanya satu sisi yang ada pemukiman. Sedangkan sisi lain­nya, berupa semak dan kebun.

Penanganan banjir di wilayah itu, tidak hanya membuat sodetan. Di sisi lainnya, masih di Gang Haji Yusuf, saluran penghubung juga diperbaiki. Dinding saluran yang tadinya hanya berupa tanah, diturap.

Hari itu, saluran penghubung tersebut sedang dalam penger­jaan. Sisi saluran, dipasang tumpukan karung berisi pasir. Ada juga sebagian yang sudah dimasukkan adukan semen. Tak lupa, rangka dari besi dipakai untuk melapisi dinding turap.

Amo Setiawan, Koordinator Lapangan (Korlap) Pemeliharaan Dinas Tata Air Jakarta Selatan mengatakan, pembuatan sodetan bertujuan agar debit air ke hilir berkurang. Untuk menormalisasi aliran air di kali tersebut.

"Biar yang ke arah Masjid Ar-Ridwan dinormalin lagi," ucap Amo, saat ngobrol.

Amo bilang, sodetan itu bisa mengurangi ketinggian air secara signifikan. Yang tadinya tingginya 80 centimeter (Cm), akan turun jadi 50 Cm. "Jadi kalau ini nanti ada pintu airnya, bisa turun 30 Cm," ungkapnya.

Saat selesai nanti, pintu air tersebut akan awasi. Terutama saat musim hujan. Amo bilang, petugas dari kelurahan setempat yang akan mengawasi pintu air di sodetan tersebut.

Namun, katanya lagi, tiap hujan lebat, akan tetap ada pen­gawasan dari Dinas SDA juga. Apakah pintu air akan dibuka, atau ditutup. Tergantung tinggi air di bagian hilir.

"Karena kasian juga warga yang di bawah kalau air sudah tinggi," ucapnya.

Selain sodetan, di wilayah itu, kata Amo, akan ada rencana peninggian dinding kali. pemasangan turap baru. Kata dia, itu berguna menjaga agar tanah warga tidak longsor.

"Tingginya dua meter, untuk menjaga debit air nggak masuk ke rumah warga," terangnya.
Editor:

Kolom Komentar