Dimensy.id Mobile
Dimensy.id
Apollo Solar Panel

Pembeli Ramai, Barang Lengkap, Harga Miring

Melongok Gerai OK OCE di Cikajang

Rabu, 27 Maret 2019, 10:48 WIB
Pembeli Ramai, Barang Lengkap, Harga Miring
Foto/Net
rmol news logo Cawapres Sandiaga Uno kembali jualan program OK OCE. Dia mau jadikan OK OCE sebagai program nasional. Langkah ini dikritik lawan politik. Karena dianggap program gagal. Kami menemukan satu gerai OK OCE yang hingga kini masih ramai pembeli. Kaos Prabowo-Sandi pun dijual di sana.

Di Jakarta, program One Kecamatan, One Center of Entrepreneurship alias OK OCE yang dikenalkan sejak Februari 2017 terus berkembang. Salah satunya Gerai OK OCE di Cikajang, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Gerainya yang berada di tengah permukiman elite ini ramai pembeli. Pembeli ramai masuk-keluar gerai yang dibangun menggunakan kontainer. Ukuranya tidak besar.
 
Tapi, barang yang dijual cukup komplit. Harganya juga miring. Lebih murah dari minimarket yang ada di sekitar. "Di sini pembeli selalu ramai.Kalau se­pi, toko pasti tutup," ujar Delis, salah seorang karyawan toko saat berbincang dengan Rakyat Merdeka, Senin (25/3).

Berdasarkan pengamatan, lokasi gerai berada di halaman kantor milik Alex Asmasoebrata. Letaknya cukup strategis berada di samping Jalan Raya Cikajang. Gerai ini yang pertama di Jakarta. Dari kejauhan, bentuk gerainya unik. Bahannya dari kontainer bekas warna hijau. Ukurannya 2x5 meter. Di bagian depan, diganti dengan kaca bening berukuran besar. Di atas gerai, terdapat tulisan, OK OCE MART dan tulisan Gerai "OK OCE".

Masuk ke dalam gerai, terse­dia pintu masuk di tengah­nya. Ukurannya cukup sempit, hanya bisa dilewati satu orang. Kondisi di dalamnya juga sem­pit. Penuh dengan rak berisi makanan. Hanya tersisa jalan sem­pit. Lebarnya setengah meter. Akibatnya, pembeli tidak bebas bergerak saat memilih makanan atau minuman yang dijual. Dari mulai, makanan, minuman, sabun cuci, rokok hingga kaos Prabowo-Sandi. Tak ketinggalan, dua lemari pendingin juga tersedia. Isinya aneka minuman bersoda maupun teh. Kasirnya ada dipojok. "Ada dua kasir yang berjaga. Kami gantian," sebut Delis kembali.

Di sepanjang Jalan Cikajang hanya tiga minimarket. Selain gerai OK OCE, ada juga CIRCLE-K dan Alfamart. Kendati, ukurannya tidak besar, gerai OK OCE cukup banyak dipadati pembeli. Mereka hilir mudik membeli makanan dan minuman. Namun barang yang dibeli tak banyak. Hanya satu atau dua barang.

"Harga di sini lebih murah dari toko lain," klaim Delis.

Harga murah tidak hanya slogan. Rokok Sampoerna Mild dihargai Rp 22.500, You C 1000 Rp 6 ribu, hingga Pop Mie dihar­gai Rp 6 ribu. Jika dibandingkan dengan minimarket yang ada di sekitar, gerai OK OCE lebih mu­rah seribu atau dua ribu rupiah.

"Yang paling laku rokok. Dalam seminggu empat slop habis. Satu slop isinya 10 bung­kus," ujarnya.

Selain rokok, kata dia, makanan dan minuman juga laris manis. Delis selalu menyiapkan stock yang cukup banyak agar tidak kehabisan. "Dalam sebulan bisa 10 kali stock barang. Setiap kali stock bisa 10 dus makan dan minuman," ungkapnya.

Gerai OK OCE di Cikajang, buka setiap hari mulai pukul 08.00-20.00 WIB. "Kami tutupsaat libur hari raya saja," ujarnya.

Delis sesumbar, gerainya bisa bertahan cukup lama dibanding gerai OK OCE yang lain karena tidak perlu membayar sewa tem­pat dan juga listrik. Alasannya, lokasi gerai menyatu dengan kantor sang pemilik, yakni Alex Asmasoebrata. "Jadi banyak pengeluaran yang bisa dihemat," sebut dia.

Pengelola gerai OK OCE Mart, Cikajang, Kebayoran Baru, Lenawati mengklaim omzet penjualannya terus meningkatsetiap harinya. Bahkan, saat ini omzetnya mencapai Rp 3 juta. "Kalau bersihnya saja bisa sampai Rp 300 ribu per hari," klaim Lena.

Saat ini tokonya memang hanya menyediakan berbagai macam kebutuhan pokok. "Ke depan kami akan tambah denganjual pulsa, listrik dan juga pembayaran BPJS," kata dia.

Untuk suplai barang, Lena menyebut, berasal dari PD Pasar Jaya dalam bentuk penyediaan barang dagang. "Sehingga ba­rang yang kami jual bisa lebih murah dibanding supermarket lain," klaim dia.

Agar gerainya tetap eksis, Lena juga menjalin kerjasama dengan berbagai pihak termasuk pengusaha kecil agar menjual dagangannya di gerai ini. "Kalau ada tambahan produk UMKM mungkin bisa tambah ramai pembeli," harap dia.

Kendati menjadi salah satu program unggulan Anies-Sandi, Lena mengaku tidak pernah mendapat pendampingan pelati­han dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

"Sejauh ini selama satu tahun terakhir belum ada bantuan modal atau dana dari Pemprov sedikitpun," ucapnya.

Seluruh modal untuk membuat gerai, kata dia berasal dari kan­tong Alex Asmasoebrata sebesar Rp 200 juta. Modal tersebut untuk membeli kontainer dan juga keperluan toko lainnya. "Kalau sekarang modalnya lebih murah karena tidak perlu pakai kontainer," kata dia.

Lena mengungkapkan, gerai OK OCE di Cikajang merupakan pertama di Jakarta. Awalnya bernama "Satu Pintu". Saat itu ia mengaku belum menjadi pengelola toko tersebut. Ia mulai menjadi pengelola saat dim­inta oleh Alex Asmasoebrata--pemilik ASA Center. "Jadi, saya sudah megang selama satu tahun," ucapnya.

Dengan kondisi tersebut di atas, Lena mendukung bila program OK OCE diterapkan di level nasional. Sebab, program tersebut sangat baik karena mendidik masyarakat menjadi pengusaha dan bukan pekerja.

"Ini program bagus untuk mencetak wirausaha mandiri," pungkasnya.

Latar Belakang
Cuma Pindah Tempat, Bukannya Tutup
Program OK OCE diperkenalkan Sandiaga Uno saat melakukan kampanye bersama Anies Baswedan untuk maju sebagai pasangan gubernur dan wagube DKI Jakarta, awal Februari 2017. Program ini bertujuan melakukan pembinaan kewirausahaanterhadap pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah. Sandiaga yakin program OK OCE akan mampu menciptakan lapangan kerja dengan lahirnya ribuan pengusaha baru.

Setelah terpilih, Sandiaga langsung merealisasikan pro­gram unggulannya tersebut. Tahap awal, program tersebut membidik 44 kecamatan di DKI Jakarta. Setiap kecamatandi DKI Jakarta dibuat satu pusat pelatihan kewirausahaan. Pesertanya ada dari warga yang sudah memiliki usaha untuk dibina agar usahanya berkem­bang, dan ada dari warga yang baru akan memulai usaha untuk nantinya dibina dan menda­patkan bantuan permodalan. Berdasarkan data di situs okoce. me, jumlah peserta program OK OCE di DKI Jakarta mencapai 65.461 orang.

Sayangnya, program yang baru berjalan satu tahun ini tidak berjalan mulus. Tidak semua gerai OK OCE Mart laris manis. Malahan banyak yang gulung tikar. Seperti, gerai yang be­rada di Jalan Warung Jati Barat, Kalibata tutup setelah kontrak ruko berakhir 1 September 2018. Pasalnya, omzet tak mencukupi untuk membayar sewa lahan.

Mengklaim berhasil, Sandiaga lantas 'menjual' program terse­but ke level nasional. Dia me­nyampaikan niatnya itu dalam debat Pemilu 2019 putaran ketiga, Minggu (17/3/2019).

"Kami melihat hasil yang nya­ta dan sudah mendapat review yang positif," tutur Sandiaga.

Ia mengungkap sebanyak 65 ribu orang mendaftar program tersebut sepanjang tahun 2018. Dari jumlah itu, 50 ribu orang mengikuti program pelatihan danpendampingan. Kemudian, terdapat 15 ribu izin usaha mikro dan kecil (UMKM) yang telah diterbitkan. Mulai dari, nasi uduk, fash­ion muslim, ekonomi kreatif.

Dengan jumlah itu, dia meng­klaim program OK OCE sudah tercapai setengahnya. Pemprov DKI menargetkan 200 ribu pengusaha baru tapi belum dua tahun sudah hampir 100 ribu. "Jadi hampir setengah tercapai dan Insya Allah ini kita angkat ke level nasional," usulnya.

Untuk level nasional, kata dia, rencananya akan dibentuk di setiap kabupaten/kota. Saat ini, kata Sandi, sudah ada beberapa proyek percobaan di puluhan ka­bupaten. "Kami ingin dorong se­bagai program berskala nasional dengan satu pendekatan gerakan ekonomi rakyat," harap dia.

Sandi membantah OK OCE gagal dan sejumlah gerainya tutup karena bangkrut, padahal fak­tanya pindah tempat. Ia berkilah di Cakung Jakarta Timur dan Pejaten, Jakarta Selatan yang banyak diisukan tutup itu sebenarnya pin­dah tempat. "Soalnya sistemnya adalah kontainer," kilahnya.

Sedangkan, Ketua Umum OK OCE Indonesia Faransyah Agung Jaya menambahkan, kemasan OK OCE skala nasional berbeda. Di Jakarta, kata dia, 100 persen oleh Pemerintah Provinsi DKI. "Kalau OK OCE nasional masih berupa gerakan yang dilakukan relawan," ujar Faransyah.

Faransyah mengatakan, OK OCE di Jakarta sudah memi­liki bahasa resminya yaitu pengembangan kewirausahaan terpadu (PKT). Bahkan OK OCE Jakarta sudah memiliki dasar hukum yaitu Peraturan Gubernur (Pergub) Nomor 102 Tahun 2018 tentang PKT.

Untuk pendanaan, kata Faransyah, OK OCE Jakarta bakal hidup dari anggaran Pemprov DKI Jakarta. Sedangkan, OK OCE skala nasional menggunakan dana pribadi karena menjadi bagian dari gerakan relawan. rmol news logo article

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA