Hal itu menunjukkan tingkat keberhasilan sistem yang diterapkan Kementerian Pertanian dalam mendorong peningkatan produksi pangan nasional.
Demikian disampaikan Ketua Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian, Agung Hendriardi 'Pengendalian Inflasi, Distrubusi dan Ketersediaan Pasokan Pangan' di Gedung Kementan, Jakarta Selatan, Jumat (28/12).
"Dari 17,74 juta menjadi 15,81 juta orang. Indikatornya PDB pertanian kita ini naik 5,27 persen. Jadi, pendapatan negara dari sektor pertanian meningkat," ujar Agung.
Kata Agung, ketika produksi sektor pertanian mengalami kenaikan maka akan memudahkan para investor untuk berinvestasi.
"Sehingga para investor akan berminat untuk investasi, karena produksinya naik," tuturnya.
Agung menjelaskan, tingginya beberapa harga pangan seolah menjadi dua sisi mata uang. Disatu sisi petani merasa terbebani, di sisi lain konsumen menginginkan hal tersebut. Namun, bersadarkan pengamatan di lapangan menurunnya angka petani miskin menunjukkan kenaikan tingkat produksi.
"Ini menarik, artinya apa, kalau harga pangan rendah, bagaimana petaninya tambah sejahtera? Ternyata setelah kita cek indikatornya kesejahteraan petani itu meningkat. Kemudian kita lihat lagi kemiskinan di pedesaannya gimana? Kemiskinannya menurun. Nah, analisis kami, kesimpulan sebenarnya kenapa harganya tidak naik tapi kesejahteraan naik, berarti volume yang diproduksinya meningkat," pungkas Agung.
[lov]
BERITA TERKAIT: