Salah satu langkah utama yang akan ditempuh adalah mendorong belanja pemerintah, yang dinilai masih memiliki ruang besar untuk menopang pertumbuhan.
"Untuk pertumbuhan di kuartal II (2026) memang salah satu yang kita akan genjot adalah belanja pemerintah, karena tahun lalu basis daripada belanja pemerintah rendah, dan Q1 kemarin belanja pemerintah menjadi penopang, dan ini juga akan menjadi penopang di Q2," kata Airlangga dalam konferensi pers Pertumbuhan Ekonomi Kuartal I/2026 di Jakarta, Selasa 5 Mei 2026.
Selain itu, pemerintah juga berupaya menjaga daya beli masyarakat, salah satunya melalui pencairan gaji ke-13 bagi aparatur sipil negara (ASN) yang ditargetkan cair pada Juni 2026.
Pemerintah, kata Airlangga juga menyiapkan berbagai insentif, termasuk rencana subsidi motor listrik yang akan dilaporkan kepada Presiden.
Dari sisi investasi, realisasi pada kuartal I/2026 tercatat tumbuh 7,2 persen. Bahkan, komitmen investasi dari sejumlah negara seperti Amerika Serikat, Jepang, dan Korea Selatan diperkirakan mencapai Rp540 triliun.
"Kita ketahui bahwa investasi di Q1 itu kita naik 7 persen, kita berharap nanti ini bisa kita bawa ke Q2," ujarnya.
Meski optimis, Airlangga mengaku pemerintah belum menetapkan proyeksi resmi untuk pertumbuhan ekonomi pada kuartal II/2026.
"Mengenai kuartal 2 belum bikin proyeksi, jadi kita kuartal pertama dulu aja yang Indonesia berhasil katakanlah meng-outbeat ekspektasi dari berbagai lembaga jadi ini satu hal yang positif ya," tandasnya.
BERITA TERKAIT: