Hadir dalam peresmian tersebut Pimpinan MPR RI Mahyudin, Hidayat Nur Wahid, Oesman Sapta, Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo, Ketua DPD RI M. Saleh, Gubernur Kalbar Cornelis, Bupati Kayong Utara Hildi Hamid, dan pejabat lain.
Dalam kesempatan tersebut Presiden menandatangani prasasti peresmian masjid sekaligus menerima replika masjid yang diberikan langsung oleh Oso sapaan akrab Oesman Sapta, dan dengan didampingi Pimpinan MPR, Panglima TNI, Gubernur Kalbar dan Bupati Kayong utara, Presiden mengelilingi area dalam dan luar masjid menikmati aristektur masjid yang sekilas mirip bagunan monumental Taj Mahal di India.
Nama Oesman yang terukir menjadi nama Masjid Agung tersebut berasal dari nama Wakil Ketua MPR RI Oesman Sapta yang mewakafkan tanahnya untuk pembangunan masjid tersebut.
Presiden sangat mengagumi arsitektur masjid itu. Beberapa kali Presiden mendongakan kepala melihat area masjid.
"Masjid yang sangat megah, yang sangat besar, Masjid Oesman Al Khair, masjid terapung yang kalau kita lihat ke arah laut sangat indah, sangat megah sekali. Alhamdulillah," katanya.
Masjid Agung Oesman Al-Khair Sukadana terlihat indah dan megah. Berada di tepi laut, tepat di tengah kelokan bukit yang memagari Laut Sukadana. Pondasi masjid dan tiang pancang dengan kokoh menancap di tepi laut. Dalam pandangan mata, apalagi dilihat dari laut terkesan masjid berwarna putih itu melayang di atas air.
Dibangun selama kurang lebih lima tahun sejak tahun 2012 dan selesai bulan Oktober 2016. Pembangunan masjid berkapasitas 3.000 jamaah tersebut menelan biaya sekitar Rp 38 miliar.
Usai meresmikan Masjid Agung Sukadana, Presiden membuka festival Selat Karimata Sail 2016 di Pantai Datok yang lokasinya tidak dari Masjid Agung Sukadana. [rus]
BERITA TERKAIT: