"Bima Suci" Beraksi Di Boyolali Pada Acara Sosialisasi Empat Pilar

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/ruslan-tambak-1'>RUSLAN TAMBAK</a>
LAPORAN: RUSLAN TAMBAK
  • Sabtu, 08 Oktober 2016, 10:31 WIB
"Bima Suci" Beraksi Di Boyolali Pada Acara Sosialisasi Empat Pilar
Foto/MPR RI
rmol news logo . MPR RI bekerjasama dengan Pemerintah Kabupaten Boyolali menggelar pertunjukan wayang kulit di Gedung Ngeksipuro Kapujanggan, Desa Pengging, Kecamatan Banyudono, Kabupaten Boyolali, Provinsi Jawa Tengah, Jumat malam (7/10). Pagelaran dalam rangka sosialisasi Empat Pilar MPR itu menampilkan dalang Ki Dwijo Kangko, dengan lakon "Bima Suci".

Meski cuaca kurang bersahabat, namun tak mengurangi minat para pecinta wayang kulit dari berbagai pelosok Kabupaten Boyolali dan sekitarnya tetap berduyun-duyun datang ke arena pertunjukan guna menyaksikan kesenian tradisional yang sangat digemari oleh masyarakat Jawa tersebut.

Di antara masyarakat penggemar wayang itu, tampak pula para pejabat negara dan pemerintah yang hadir. Mereka adalah Ketua Badan Pengkajian MPR RI Bambang Sadono, serta para anggota MPR terdiri dari Endang Srikarti Handayani (Partai Golkar), Sirmadji (PDI Perjuangan), dan Muhammad Thoha (PKB). Dari pejabat daerah hadir jajaran Forkompimda Kabupaten Boyolali.

Bambang Sadono atas nama Pimpinan MPR, setelah sebelumnya mendengarkan laporan dari ketua pelaksana yang juga Kabag Pemberitaan, Hubungan Antar Lembaga dan Layanan Informasi, Biro Humas MPR Rharas Estining Palupi, dan sambutan Bupati Kabupaten Boyolali yang diwakili oleh Camat Banyudono Rita Puspitasari.

"Wayang merupakan salah satu metode sosialisasi Empat Pilar, yaitu Pancasila, UUD NRI Tahun 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika," kata Rharas dalam laporannya selaku ketua pelaksana pagelaran wayang di Boyolali ini. Kali ini, kata Rharas, sosialisasi menyasar ke masyakarat melalui pelestarian kesenian daerah.

Bambang Sadono menyatakan, sosialisasi Empat Pilar masih perlu dilakukan. Mengingat sudah sekian lama Pancasila tidak lagi diajarkan di masyarakat, dan tidak lagi menjadi mata pelajaran di sekolah-sekolah, sehingga banyak menimbulkan keluhan di tengah masyarakat. Nah, MPR adalah lembaga satu-satunya mendapat amanat untuk melakukan sosialisasi ini.

Tapi, menurut Bambang Sadono, kalau hanya MPR yang melaksanakan sosialisasi maka tidak akan bisa maksimal. Maka, MPR telah melakukan kajian, yang kesimpulannya, perlu lembaga khusus untuk melaksanakan sosialisasi Empat Pilar ini. Jadi, semacam BP-7 masa Orde Baru, dengan pemasyarakatan P-4.

Untuk masyarakat Boyolali Sadono, menurut Bambang, memang dipilih metode pagelaran kesenian daerah, wayang. Karena untuk masyarakat Boyolali khususnya dan Jawa Tengah umumnya, memang lebih pas sosialisasi melalui pagelaran wayang kulit. Karena dilaksanakan dengan santai dan tidak tegang.

"Melalui kesenian wayang bisa mendengarkan musik, bisa melihat sinden, bisa menyaksikan ketrampilan dalang dalam memainkan wayangnya," kata Bambang Sadono.

Dan, dalang, menurut anggota DPD asal Jawa Tengah, mempunyai ketrampilan berkomunisasi yang mumpuni. "Sehingga pesan-pesan yang disampaikan melalui dalang mudah diserap masyarakat," katanya.  

Pagelaran wayang ini sengaja memilih lakon Bima Suci. "Karena lakon ini sangat sesuai dengan situasi yang cukup memprihatinkan sekarang ini," kata Bambang Sutoyo, tokoh masyarakat Boyolali yang juga banyak memberikan masukan untuk pertunjukan wayang di Boyolali ini.

Menurut mantan Ketua DPRD Provinsi Jateng yang juga pernah menjabat Ketua DPD Golkar Jateng, tokoh Wrekudoro (BIma) dalam cerita wayang digambarkan sebagai pribadi yang tegas, jujur, dan berani. Karakter Wrekudoro, menurut Bambang Sutoyo, tidak suka membeda-bedakan dan dia melakukan sesuatu karena dia melihat adanya ketimpangan.

Dalam kaitannya dengan Empat Pilar, jelas Bambang Sutoyo, perilaku Wrekudoro mencerminkan nilai-nilai yang terkandung dalam Empat Pilar. [rus]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA