Buku "Dari Rote ke Lowa" Karya Poyk Dikupas Di MPR

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/ruslan-tambak-1'>RUSLAN TAMBAK</a>
LAPORAN: RUSLAN TAMBAK
  • Jumat, 07 Oktober 2016, 13:27 WIB
Buku "Dari Rote ke Lowa" Karya Poyk Dikupas Di MPR
Gerson Poyk/Net
rmol news logo . Setelah di Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta, dan tempat lainnya, buku karya Gerson Poyk yang berjudul "Dari Rote ke Lowa" juga dikupas di Perpustakaan MPR, Komplek Parlemen, Jakarta, Kamis (6/10).

Acara yang digelar di Komplek Parlemen, selain penulis sendiri, hadir penyair Taufik Ismail, Anggota MPR dari Kelompok DPD, Asri Anas, serta dari kalangan artis dan kelompok seni seperti Connie Constantia, Fatin Hamama, Dapoer Sastra Tjisauk, Inez Mardiana, Dian Ono, Abrory A Djabar, Doddy B Priambodo, Ade Novi, Slamet Widodo, Violi, LK Ara, dan Moniq.

Di awal acara, Asri Anas selain memberi kata pujian pada Poyk, ia juga membaca puisi karya Poyk. Pun demikian Taufik melakukan hal yang serupa. Ia menyuarakan puisi itu dengan energik sehingga apa yang dilantunkan itu mampu membuat 100 undangan menjadi terkesima dalam keheningan.

Buku karya pria kelahiran Nusa Tenggara Timur, 16 Juni 1931, siang itu dikupas oleh wartawan Femina Heryus Saputro dan Jodhi Yudono Ketua Sana Sini Seni Jakarta, dengan Uki Bayu Sedjati sebagai moderator.

Dalam pengantar acara, Poyk membaca puisi karyanya. Terlihat saat itu, ia bersemangat bak api yang menyala dalam mengisahkan perjalanan hidup, wajahnya yang keras dengan rambut warna perak, menggambarkan ia kenyang dengan perjalanan yang telah dilalui. Wajahnya menggambarkan seperti apa yang tertuang dalam bait-bait puisi yang penuh pengembaraan.

Lembar demi lembar puisi yang terangkum dalam buku itu merupakan kumpulan puisi yang telah ditulis sejak dirinya masih muda, di tahun 1950-an. Apa yang tersurat dalam puisi merupakan pengalaman diri saat menjadi jurnalis, belajar di Amerika Serikat, India, dan ke dunia lainnya.

Dalam puisi itu, Poyk juga menceritakan sebuah arti pentingnya keadilan. Diakui, bahwa ketidakadilan sering dijumpai, tidak di satu tempat namun di semua penjuru mata angin. Keadilan dan ketidakadilan, menurutnya selalu bersangkut paut dengan kebahagiaan dan kesenjangan umat manusia.

Lebih lanjut di-jlentreh-kan, di dunia ini ada yang disebut absurd walls, yaitu tebing kontradiksi dan kemustahilan yang di dalamnya ada kerinduan. Baginya ada tiga cara untuk menghadapi, yaitu bunuh diri, bunuh orang, dan jalan tengah (etis moral).

Poyk lahir di Pulau Rote, dikenal melalui karya-karyanya yang termuat di media massa. Karyanya dijadikan acuan dalam pelajaran bahasa dan sastra Indonesia. Riwayat pendidikan yang ia tempuh di banyak tempat, seperti SMP dan SGA di Ternate, Maluku Utara serta di Bima, Sumbawa, Nusantara Tenggara Barat. Sekolah SGA-nya ditamatkan di Surabaya, Jawa Timur.

Dirinya menjadi sastrawan, bisa jadi karena latar belakang pekerjaannya. Ia merupakan wartawan harian Sinar Harapan pada tahun 1962-1970. Di saat menjadi wartawan, ia mendapat beasiswa dari University of Lowa, Amerika Serikat, untuk mengikuti program penulisan internasional. Pengalaman di manca negara dialami tak hanya di negeri Paman Sam namun juga di negeri India. Ia pernah mengikuti seminat sastra di negeri bollywood itu pada tahun 1982.

Karya-karya yang pernah diluncurkan seperti Hari-Hari Pertama, Sang Guru, Cumbuan Sabana, Giring-Giring, Matias Akankari, Oleng-Kemoleng & Surat-Surat Cinta Rajagukguk, Nostalgia Nusa Tenggara,Jerat, dan Di bawah Matahari Bali.

Sebagai sastrawan kondang, berbagai ganjaran dalam dunia ini pernah ia raih, seperti Aktor pembantu terbaik pada Festival Seni Drama di Surabaya 1956, hadiah sastra dari majalah Horison dan Sastra, Jurnalistik Adinegoro1965, Anugerah Southeast Asia Write Award 1982, dan  Lifetime Achivement Award dari Harian Kompas. [rus]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA