"Dengan mengucapkan bismillahirrahmanirrahim pagelaran wayang kulit dengan lakon Sang Baladewi saya buka dengan resmi," kata wakil ketua MPR periode 2009-2014 ini.
Selanjutnya Dimyati menyerahkan tokoh wayang kepada dalang Ki Ardhi Poerbo, dalang kesohor arek Kota Malang. Dan pagelaran wayang kulit dengan lakon Sang Baladewa pun dimulai. Ratusan penggemar wayang dari Kota Malang dan sekitar ini memenuhi sisi selatan Bundaran Tugu, tak jauh dari kantor Walikota Malang.
Dimyati dalam sambutannya menyatakan, pagelaran wayang ini diselenggarakan oleh MPR bekerjasama dengan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Malang dalam rangka sosialisasi Empat Pilar MPR. Sengaja dipilih wayang, jelas Dimyati, karena wayang sebagai budaya tradisional dianggap bisa memasyarakat Empat Pilar sehingga masyakarakat menjadi nasionalis, konstitusionalis, dan betul-betul berbinneka tunggal ika, walau berbeda-beda tetap satu jua.
Lakon Sang Baladewa dipilih, menurut Dimyati, karena Baladewa menggambar tokoh yang kridibel, kapabel, yang akhirnya bisa memajukan masyarakat. "Mudah-mudahan Indonesia menjadi maju," ungkap Dimyati.
Sang Baladewa memang menceritakan perjalanan seorang remaja Prabu Baladewa yang bernama Raden Kokrosono. Meski menghadapi berbagai rintangan dan halangan, serta berkat ketekunannya Baladewa berhasil menduduki tahta dan pelungguhan Diraja Mandura dan menikah dengan Dewi Herawati, putri Prabu Salyoaji, setelah melalui sayembara yang tidak ringan.
Dalam konteks Empat Pilar, menurut dalang Ki Ardhi, seorang pemuda harus gigih. Apapun yang dihadapi harus disikapi secara arif dan bijaksana. Jadi, walau bagaimanapun pemuda harus tetap menjadi agen perubahan. "Kalau pemuda melempen tentu akan merambah kepada sebuah bangsa dan negara," tegas Ki Ardhi.
Jadi, kalau kita sinkronkan dengan sosialisasi Empat Pilar, menurut Adhi, kita kembali pada masa lalu, kembali kepada sejarah terjadinya gerakan Budi Utomo yang melahirkan pergerakan Sumpah Pemuda yang akhirnya melahirkan kemerdekan NKRI, 17 Agustus 1945.
"Itulah kerja keras dan jerih payah para pemuda dalam rangka tegaknya kebenaran dan menunjukkan jati diri bangsa dalam menegakkan persatuam dan kesatuan bangsa," ujar Ki Ardhi.
Seperti dalam rilis MPR, Kepala Biro Humas MPR RI Ma'ruf Cahyono, selaku ketua Panitia Pagelaran Wayang ini menjelaskan, wayang merupakan salah satu metode dari beberapa metode yang dilakukan dalam rangka sosialisasi Empat Pilar. Sebagai salah metode efektif dalam menyosialisasi Empat Pilar, menurut Ma'ruf, ini dilakukan sebagai upaya agar Pancasila tidak hanya diketahui, tapi diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.
Ma'ruf juga menjelaskan bahwa MPR juga punya metode untuk internalisasi Pancasila dalam tataran lebih praksis, yaitu melalui gerakan "Ini Baru Ini Indonesia." Sebuah gerakan yang dicanangkan pada peringatan Hari Pancasila 1 Juni 2015 di Blitar, Jawa Timur.
Pagelaran wayang di Malang ini dihadiri sembilan anggota MPR. Selain Ahmad Dimyati, juga hadir Lukman Eddy (pimpinan Banggar), Faried Alfauzi (Hanura), Rofi' Munawar (PKS), Moreno (Gerindra), Fandi Utomo (Demokrat), Nasim Khan (PKB), Kresna Dewanata (Nasdem), dan Anang Priantoro (kelompok DPD).
[rus]
BERITA TERKAIT: