Jawabannya sederhana: kolektif PRD Jabodetabek, atau yang lebih akrab kami sebut kolektif bawah.
Bukan karena kami paling pintar. Bukan pula karena paling gagah. Apalagi paling kaya. Yang terakhir itu bahkan gugur sebelum sempat diperdebatkan.
Yang membuat kolektif bawah berbeda justru karena bebannya paling berat, tetapi tawanya juga paling keras.
Di saat kolektif daerah sibuk membangun organisasi di wilayah masing-masing, kolektif bawah hampir selalu kebagian pekerjaan yang tidak pernah tertulis dalam deskripsi tugas.
Menyebarkan selebaran gelap bertuliskan "Jatuhkan Soeharto", membuat graffiti "Cabut Dwi Fungsi ABRI" dan "Gulingkan Soeharto Sekarang Juga", menjaga keselamatan pimpinan partai, mengawal kawan-kawan daerah yang datang ke Jakarta, sampai berubah profesi menjadi sopir, penunjuk jalan, tukang jemput, bahkan sesekali merangkap pemandu wisata revolusi.
Kalau sekarang istilahnya
multitasking.Kalau dulu istilahnya lebih sederhana.
"Lu aja yang ngerjain."
Belum lagi urusan distribusi propaganda. Aktivis PRD Jabodetabek mungkin adalah kurir paling militan sebelum profesi kurir menjadi tren. Kami menyebarkan jutaan selebaran ke Jakarta, Bogor, Tangerang, Bekasi hingga berbagai daerah lain.
Kalau sekarang orang berlomba mengejar satu juta followers, kami dulu mengejar satu juta lembar selebaran.
Tidak ada tombol
boost. Tidak ada algoritma.
Yang ada hanya kaki, bus kota, kereta ekonomi, dan doa supaya perjalanan hari itu berakhir dengan selamat.
Selain selebaran satu lembar, kami juga punya
newsletter delapan halaman yang akrab disebut MBR.
Newsletter itu dilipat sedemikian rupa hingga ukurannya tinggal sekitar sepuluh sentimeter. Kecil, ringkas, mudah diselipkan ke dalam saku atau tas.
MBR disebarkan di terminal, stasiun, kampus, pasar, warung kopi, hingga tempat-tempat orang berkumpul.
Kalau sekarang ada istilah
guerrilla marketing, dulu kami sudah mempraktikkannya tanpa pernah tahu nama kerennya.
Yang lucu, setelah selesai menyebarkan MBR kami biasanya pura-pura menjadi orang yang kebetulan lewat. Kadang ikut duduk di warung sambil minum teh, padahal mata diam-diam mengawasi.
Begitu ada orang mengambil MBR lalu membacanya, rasanya ingin berteriak, "Nah... itu tulisan kita!"
Tetapi wajah harus tetap datar.
Sebab kalau terlalu senang, yang menghampiri belum tentu pembaca.
Bisa saja intel.
Syukurlah, MBR benar-benar dibaca. Sentimen anti-kediktatoran semakin meluas. Dari gang-gang kecil sampai jalan protokol, dari warung kopi hingga kampus, bentrokan-bentrokan kecil antara massa rakyat dan aparat semakin sering terjadi.
Ironisnya, setelah semalaman berlari menghindari aparat, besok paginya kami sudah rapat lagi seolah-olah semalam cuma habis ronda.
Semua pekerjaan itu dijalankan dengan riang di bawah komando Dwi Hartanto, atau Lukas.
Selain kepemimpinannya yang tenang, ada satu hal yang sulit dibantah.
Bulu matanya memang lentik.
Di tengah situasi pasca-27 Juli 2026 yang penuh tekanan, bulu mata itu tetap terlihat tenang.
Mungkin itu salah satu bentuk ketahanan revolusioner yang belum pernah ditulis dalam teori politik.
Yang lebih hebat lagi, semua tugas itu hampir tidak pernah disertai uang operasional. Tidak ada uang bensin. Tidak ada uang makan. Tidak ada uang lembur.
Kalau sekarang panitia sibuk menyusun RAB.
Dulu RAB kami hanya satu.
Rencana Ada Beras?
Kalau ada nasi dan teh manis, revolusi lanjut.
Kalau ada telur, itu sudah terasa seperti kemenangan rakyat.
Lelah tentu saja ada.
Tetapi obatnya bukan liburan.
Obat kami bernama cak-cakan.
Setiap hari selalu ada sesi saling ledek. Tidak pernah dijadwalkan, tetapi tidak pernah absen.
Kalau Alfan, satu-satunya orang Betawi di kolektif, sudah mulai membuka mulut, semua orang otomatis bersiap menjadi korban.
Istilah-istilah Betawi keluar semua. Dari yang halus sampai yang membuat satu rumah terpingkal-pingkal.
Yang diserang tentu tidak tinggal diam. Balasannya biasanya lebih pedas.
Semakin akrab persahabatan, semakin sadis bahan ledekannya.
Korban tetapnya adalah Syahdini Hari.
Kalau nama lengkapnya mungkin masih ada yang lupa.
Tetapi nama Kodok sudah menjadi identitas permanen.
Masalahnya bukan karena wajahnya.
Masalahnya adalah... mandi.
Kalau Kodok masuk kamar mandi, semua orang langsung sadar bahwa hidup mengajarkan kesabaran.
Satu setengah jam.
Yang antre mulai mondar-mandir.
Gayung seperti kehilangan masa depan.
Kran air mungkin sudah bosan mengalir.
Bak mandi pun barangkali mulai bertanya dalam hati, "Bang, masih lama?"
Yang paling mengherankan, setelah keluar kamar mandi...
Tidak ada perubahan revolusioner.
Kami sampai curiga jangan-jangan yang sedang dibersihkan bukan badannya...
...melainkan dosa satu angkatan.
Begitulah kehidupan kolektif bawah.
Pagi menyebarkan selebaran.
Siang mengantar kawan.
Sore mengamankan pimpinan.
Malam rapat.
Tengah malam membuat graffiti.
Subuh masih sempat saling ledek.
Kalau dihitung-hitung, mungkin jam ketawa kami lebih banyak daripada jam tidur.
Hari ini PRD memang sudah menjadi sejarah. Jalan hidup kami juga sudah berbeda-beda. Ada yang menjadi wakil menteri, anggota DPR, komisaris BUMN, pejabat negara, aktivis, akademisi, pekerja, hingga sibuk mengurus cucu.
Usia memang membuat sebagian dari kami kadang lebih mudah baper.
Tetapi itu tidak pernah bertahan lama.
Karena begitu bertemu, lima menit pertama biasanya bukan membahas politik.
Masih sibuk menghina rambut yang mulai habis, perut yang mulai maju, atau wajah yang sudah tidak lagi cocok dipasang di poster buronan Orde Baru.
Lalu semua tertawa.
Dan setiap tawa itu pecah, kami selalu sadar bahwa yang paling kami rindukan dari PRD ternyata bukan rapatnya, bukan selebarannya, bahkan bukan aksi-aksinya.
Yang paling kami rindukan adalah persaudaraan yang membuat kami tetap bisa tertawa, bahkan ketika hidup sedang berada di titik paling berbahaya.
Mungkin itulah revolusi paling berhasil yang kami wariskan.
Bukan sekadar menjatuhkan rasa takut.
Tetapi menjaga persahabatan tetap hidup, bahkan ketika partainya sendiri telah menjadi sejarah.
*Mantan Ketua Komisariat SMID IISIP
BERITA TERKAIT: