Emas spot merosot 1,7 persen ke level 4.282,53 Dolar AS per ons, yang merupakan posisi terendah sejak 17 September. Penurunan serupa juga dialami oleh kontrak berjangka emas Amerika Serikat pengiriman Desember yang ditutup melorot 1,3 persen ke posisi 4.318,40 Dolar AS per ons.
Penguatan dolar AS ke level tertingginya dalam dua bulan menjadi pemicu utama koreksi ini, membuat harga logam mulia menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lain. Tekanan tersebut semakin kuat setelah sejumlah pejabat the Fed, termasuk Presiden Fed Chicago Austan Goolsbee, Presiden Fed Richmond Tom Barkin, dan Presiden Fed Boston Susan Collins, memberikan sinyal hawkish terkait risiko inflasi yang persisten akibat guncangan energi.
Berdasarkan perangkat FedWatch CME Group, pelaku pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga the Fed mencapai 77 persen pada pertemuan Oktober dan 95 persen pada Desember.
Situasi ini diperparah oleh lonjakan harga minyak mentah Brent yang kembali menembus 100 Dolar AS per barel di tengah memanasnya konflik AS-Iran, di mana kenaikan energi memicu kekhawatiran pengetatan moneter yang kian membebani aset tanpa imbal hasil seperti emas.
Pelemahan harga ini turut menyeret logam mulia lainnya ke zona merah. Harga perak spot ambles 3,9 persen menjadi 64,45 Dolar AS per ons, platinum merosot 5 persen ke level 1.741,83 Dolar AS per ons, serta paladium terkoreksi 3,7 persen menjadi 1.259,24 Dolar AS per ons.
BERITA TERKAIT: