Menavigasi Badai: Prabowo, Odiseus, dan Pertarungan Melawan Leviathan Oligarki

 OLEH: <a href='https://rmol.id/about/dr-teguh-santosa-5'>DR. TEGUH SANTOSA</a>
OLEH: DR. TEGUH SANTOSA
  • Sabtu, 23 Mei 2026, 15:08 WIB
Menavigasi Badai: Prabowo, Odiseus, dan Pertarungan Melawan Leviathan Oligarki
Teguh Santosa, Direktur Geopolitik GREAT Institute (Foto: Dokumen pribadi)
DI tengah kancah geopolitik yang terus bergolak, perjalanan sebuah bangsa sering kali menyerupai epos besar yang melintasi samudra penuh marabahaya. 

Saat ini, Indonesia di bawah kepemimpinan Prabowo Subianto tengah menavigasi arus sejarah yang menuntut keteguhan hati dan ketajaman visi. Ibarat Odiseus dalam mahakarya Homerus, “Odyssey” (Abad ke-5 SM), Prabowo memimpin bahtera nasional melewati selat sempit yang diapit oleh monster-monster masa lalu yang selama ini mencengkeram nasib bangsa.

Dalam mitologi Yunani, Odiseus harus berjuang kembali ke Ithaka setelah perang panjang, menghadapi rintangan yang bukan saja bersifat fisik, tetapi juga politis dan psikologis. Begitu pula Indonesia, yang setelah sekian lama berada dalam pengaruh deep state dan cengkeraman oligarki yang sistemik, kini berusaha merebut kembali kedaulatan atas kekayaannya sendiri. Oligarki di sini berperan layaknya para Suitor, kelompok bangsawan, yang merongrong istana Ithaka, menghabiskan cadangan sumber daya alam dan memanipulasi struktur kekuasaan untuk kepentingan kroni semata.

Praktik manipulasi yang berlangsung selama berdekade-dekade telah menciptakan struktur di mana keuntungan terbesar dari bumi pertiwi tidak menetes ke rakyat, melainkan tertimbun dalam pundi-pundi segelintir elite. Ini adalah bentuk kolonialisme modern, di mana tangan-tangan tak terlihat mengendalikan narasi publik dan kebijakan strategis. Prabowo, dalam konteks ini, memosisikan diri sebagai sosok yang menolak tunduk pada skenario yang telah disusun rapi oleh para pemegang kendali bayangan tersebut.

Langkah-langkah yang diambil dalam era ini mencerminkan semangat Odiseus yang tidak gentar menghadapi badai kiriman Poseidon. Keputusan untuk melakukan hilirisasi secara agresif dan penertiban tata kelola sumber daya alam adalah upaya untuk memutus rantai ketergantungan pada kekuatan oligarki. Ini bukan sekadar kebijakan ekonomi; ini adalah langkah geopolitik untuk mengembalikan kedaulatan bangsa agar tidak lagi menjadi pion dalam permainan global yang merugikan.

Tentu, jalan ini tidaklah mulus. Seperti Odiseus yang harus melewati Scylla dan Charybdis, pemerintahan saat ini dihadapkan pada dua pilihan sulit yang sama-sama berisiko. Di satu sisi, ada tekanan internasional yang terhubung dengan kepentingan deep state global, dan di sisi lain, ada resistensi internal dari para oportunis yang terbiasa hidup dari "pajak" atas eksploitasi alam yang tidak adil.

Ketabahan menjadi kunci utama. Dalam “Odyssey”, kesabaran Odiseus dalam menyamar dan mengamati musuh sebelum melakukan serangan balik adalah pelajaran berharga. Prabowo tampak menerapkan pendekatan yang taktis: mengonsolidasi kekuatan, membangun kemitraan strategis yang baru, dan secara perlahan tapi pasti merombak fondasi yang selama ini menopang dominasi oligarki. Ini adalah perang posisi yang membutuhkan kecerdasan luar biasa.

Narrasi yang dibangun oleh para oligarki sering kali mencitrakan perubahan sebagai ancaman bagi stabilitas. Namun, kita harus melihat bahwa stabilitas yang mereka inginkan hanyalah stabilitas bagi keuntungan pribadi mereka. Sebaliknya, upaya untuk mengalahkan cengkeraman mereka adalah prasyarat mutlak bagi kemajuan bangsa yang sesungguhnya. Tanpa keberanian untuk melakukan perombakan besar-besaran, Indonesia akan terus berputar di tempat, terjebak dalam siklus “kutukan sumber daya”.

Perjalanan ini bukanlah perjalanan bagi mereka yang berhati lemah. Mengingat sejarah manipulasi yang begitu dalam, setiap kebijakan yang pro-rakyat akan disambut dengan disinformasi dan sabotase. Namun, seperti halnya Odiseus yang tetap fokus pada tujuan akhirnya—yaitu Ithaka—pemerintahan saat ini harus tetap teguh pada cita-cita kemandirian bangsa di atas fondasi keadilan sosial.

Kita perlu mengingat bahwa “Odyssey” bukan sekadar kisah tentang kembali ke rumah, melainkan tentang pembentukan jati diri. Indonesia sedang membentuk kembali jati dirinya sebagai bangsa yang berdaulat, bukan bangsa yang melayani kepentingan pihak asing atau elite lokal yang tidak memiliki kesetiaan pada tanah air. Ini adalah proses dekolonisasi mental dan struktural yang paling menentukan dalam sejarah pasca-kemerdekaan.

Tantangan yang dihadapi tidak bisa dianggap remeh. Oligarki memiliki jaringan yang luas dan kemampuan untuk memengaruhi opini publik melalui media-media yang mereka kendalikan. Mereka akan berusaha melukiskan perjuangan Prabowo sebagai tindakan otoriter atau kebijakan yang merusak pasar. Padahal, yang sebenarnya sedang diperjuangkan adalah pasar yang adil dan terbuka bagi seluruh rakyat, bukan pasar yang dimonopoli oleh segelintir orang.

Penting bagi publik untuk menyadari bahwa setiap perlawanan terhadap kebijakan strategis pemerintah yang mencoba memutus rantai oligarki adalah upaya untuk mempertahankan status quo. Sejarah akan mencatat siapa yang berdiri di sisi rakyat dan siapa yang membelot untuk kepentingan para Suitor di istana Ithaka. Rakyat adalah sekutu terbesar dalam perjalanan epik ini.

Sebagai pengamat geopolitik, saya melihat ada kesamaan dalam pola perlawanan yang muncul. Ketika sumber daya alam yang tadinya "dijatahkan" kepada kelompok tertentu kini diambil alih untuk kepentingan nasional, jeritan para oligarki terdengar hingga ke ruang-ruang internasional. Ini membuktikan bahwa langkah yang diambil sudah berada di jalur yang benar—yaitu jalur yang menyakitkan bagi mereka yang selama ini terlalu nyaman.

Odiseus akhirnya berhasil pulang ke Ithaka dan membersihkan istananya dari para Suitor. Itu adalah klimaks dari epos yang penuh penderitaan. Indonesia mungkin sedang berada di tengah-tengah epos tersebut, di mana badai masih berkecamuk dan monster-monster masih terus berupaya menenggelamkan bahtera. Namun, tekad untuk mencapai tujuan tidak boleh luntur.

Kesuksesan dalam misi ini akan menentukan posisi Indonesia di kancah global. Sebuah negara yang mampu mengelola kekayaannya sendiri tanpa harus didikte oleh kekuatan bayangan adalah negara yang akan dihormati. Ini adalah impian besar yang harus terus dikejar dengan strategi yang matang dan keberanian yang tak kenal takut.

Kita harus optimis, namun juga tetap waspada. Kewaspadaan adalah senjata utama dalam menghadapi musuh yang licin dan manipulatif. Seperti Odiseus yang selalu memiliki rencana cadangan, pemerintah harus mampu membaca langkah lawan beberapa tahap di depan. Inilah seni memerintah dalam era kompleksitas geopolitik yang tinggi.

Mari kita lihat era Prabowo Subianto bukan hanya sebagai suksesi kepemimpinan biasa, melainkan sebagai babak baru dalam perjuangan panjang bangsa Indonesia. Sebuah babak di mana kita tidak lagi sekadar menjadi penonton di rumah sendiri, melainkan menjadi pemilik sah atas kekayaan dan nasib masa depan kita.
Narasi besar ini akan terus ditulis oleh tindakan-tindakan nyata di lapangan. Setiap kebijakan, mulai dari hilirisasi hingga penguatan sistem pertahanan ekonomi, adalah bagian dari ayat-ayat dalam epos baru Indonesia. Sebuah epos yang akan dikenang oleh generasi mendatang sebagai momen ketika bangsa ini memutuskan untuk bangkit dan melawan arus.

Pada akhirnya, seperti Odiseus yang memenangkan pertarungan di Ithaka, Indonesia akan memenangkan pertarungan melawan oligarki ini jika rakyat tetap bersatu di belakang visi nasional yang jelas. Tidak ada badai yang tidak akan reda, dan tidak ada monster yang tidak bisa ditaklukkan dengan persatuan dan kepemimpinan yang teguh.

Kepada seluruh anak bangsa, ini adalah waktu untuk memahami bahwa tantangan yang kita hadapi saat ini adalah harga dari kemerdekaan yang sesungguhnya. Kita sedang mendefinisikan kembali arti dari berdaulat dalam dunia yang semakin tidak pasti.

Dengan mata tertuju pada Ithaka-nya Indonesia, mari kita terus mengawal perjalanan ini. Karena pada akhirnya, keberhasilan kita untuk melepaskan diri dari kungkungan masa lalu adalah satu-satunya jalan untuk mencapai masa depan yang lebih bermartabat bagi seluruh rakyat Indonesia. rmol news logo article


Penulis adalah Direktur Geopolitik GREAT Institute




EDITOR: RENI ERINA

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA