Gubernur dan Ketua DPRD Kaltim Ngumpet

Rabu, 22 April 2026, 05:09 WIB
Gubernur dan Ketua DPRD Kaltim Ngumpet
Aksi unjuk rasa di Samarinda, Kalimantan Timur, memanas hingga Selasa malam, 21 April 2026. (Foto: Warganet)
BANYAK yang bertanya, apa hasil demo besar rakyat Kaltim? Baiklah, saya coba update demo di tanah Borneo, dekat IKN itu. 

Ribuan rakyat Kaltim sudah berteriak di depan Gedung DPRD dan Kantor Gubernur, Samarinda, pada Selasa 21 April 2026. 

Mereka datang bukan untuk piknik, bukan untuk selfie, tapi untuk menuntut hak, audit Rp25 miliar renovasi rumah jabatan, transparansi mobil dinas Rp8,5 miliar, dan pemberantasan KKN. 

Tapi apa yang dilakukan dua tokoh utama Kaltim, Gubernur Rudy Mas’ud dan Ketua DPRD Hasanuddin Mas’ud? Mereka memilih jurus paling memalukan, ngumpet.  

Pian bayangkan! Ribuan orang berdesak-desakan, penyandang disabilitas ikut turun, mahasiswa berteriak, rakyat biasa membawa poster, bahkan ada istri perwira polisi juga ikut. Semua menuntut keadilan. 

Tapi gubernur tetap duduk manis di balik tembok kantor. Seolah ribuan massa hanyalah suara jangkrik di malam hari. 

Ketua DPRD? Lebih ajaib lagi. Tidak muncul sama sekali. Gedung DPRD dikepung rakyat, tapi sang ketua memilih jadi mitos, ada namanya, tapi tak pernah terlihat.  

Untunglah ada wakil-wakil ketua DPRD yang masih punya sedikit nyali. Mereka menemui massa, meminta maaf, dan menandatangani pakta integritas berisi tiga poin, yakni evaluasi gubernur, pemberantasan KKN, dan penguatan fungsi pengawasan lewat hak interpelasi atau angket. 

Tiga poin ini terdengar gagah, tapi tetap saja seperti janji manis di tengah badai. Rakyat tahu, tanpa keberanian politik, pakta integritas itu bisa jadi sekadar kertas basah yang akan dilupakan begitu tinta mengering.  
 
Sementara itu, rakyat di luar gedung tidak hanya marah, tapi juga kecewa. Penyandang disabilitas yang ikut aksi menegaskan, kebijakan gubernur menghapus bantuan sosial adalah “keterlaluan.” 

Mereka datang bukan untuk hura-hura, tapi untuk menuntut hak hidup layak. Apa balasan gubernur? Diam. Tidak keluar. Tidak bicara. Tidak menatap wajah rakyatnya.  

Kedua abang-adik ini, gubernur dan ketua DPRD, tampak seperti spesies langka Kaltim. Muncul hanya saat anggaran dibahas, tapi hilang saat rakyat marah. 

Ketika menentukan kebijakan, yang diingat hanyalah kantong pribadi. Ketika ribuan rakyat menuntut keadilan, mereka memilih jadi pengecut.  

Demo hari ini memang relatif damai. Tidak ada anarkisme besar. Hanya ketegangan kecil. Tapi pesan rakyat sudah jelas, kami muak. 

Setiap kali gubernur serta ketua DPRD ngumpet, dukungan rakyat terhadap aksi semakin kuat. Karena tidak ada yang lebih menyakitkan dari pemimpin yang pura-pura tuli saat rakyat berteriak tepat di depan pintunya.  

Rakyat Kaltim sudah menunjukkan, mereka tidak takut. Mereka berani turun ke jalan, berani menuntut, berani melawan. 

Sementara pemimpin mereka memilih bersembunyi, seperti anak kecil yang menutup mata berharap monster akan hilang. 

Sayangnya, monster itu bukan di luar, tapi di dalam gedung yang penuh kerakusan, ketidakpedulian, dan dinasti politik yang menutup telinga dari suara rakyat.  

Begitulah, sejarah hari ini mencatat. Ribuan rakyat Kaltim berdiri gagah. Sementara gubernur dan ketua DPRD tercatat sebagai dua pengecut yang memilih ngumpet. 

Rakyat marah, rakyat kecewa, rakyat muak. Tapi rakyat juga semakin yakin, perubahan tidak akan datang dari mereka yang bersembunyi, melainkan dari rakyat yang berani berdiri.rmol news logo article

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA