Dunia pendidikan Indonesia kembali diguncang kabar yang membuat kalkulator masuk mode pesawat dan buku Matematika memilih mengasingkan diri ke puncak Gunung Semeru.
Kemendikdasmen baru saja merilis hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2026 untuk jenjang SD dan SMP. Hasilnya bukan sekadar kurang memuaskan. Ini levelnya seperti menonton tim favorit kalah 0-7 di kandang sendiri, lalu kiper ikut mencetak gol bunuh diri.
Nilai rata-rata nasional Matematika SD sederajat tercatat hanya 43,41. Bahasa Indonesia masih mampu bertahan dengan 60,14. Sementara di SMP, Bahasa Indonesia memperoleh 60,83, tetapi Matematika kembali terkapar di angka 40,34.
Kepala Pusat Asesmen Pendidikan Kemendikdasmen, Rahmawati mengakui, Matematika menjadi mata pelajaran dengan nilai rata-rata paling rendah di kedua jenjang.
Kalau angka 40-an ini manusia, mungkin sudah duduk di warung kopi sambil berkata, "Aku menyerah, Bang. Jangan tanya lagi soal integral."
Yang bikin suasana makin horor, penyakit ini ternyata sudah lama bersarang. Hasil TKA SMA 2025 menunjukkan Bahasa Indonesia hanya 55,38, Matematika 36,10, dan Bahasa Inggris 24,93.
Ya, dua puluh empat koma sembilan tiga. Angka itu begitu kecil sampai sempat dikira nomor antrean fotokopi, bukan nilai rata-rata Bahasa Inggris siswa SMA.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu'ti, secara terbuka menyebut hasil TKA ini "jeblok". Sebuah kata yang biasanya hanya muncul saat melihat genteng rumah diterbangkan angin puting beliung atau saham nyungsep tanpa rem.
Jika dibandingkan dengan KKM yang umumnya berada di kisaran 70 sampai 75, nilai Matematika Indonesia saat ini seperti sepeda tanpa rantai. Bentuknya ada, rodanya ada, tetapi susah diajak melaju.
JPPI kemudian membuka arsip lama yang membuat suasana semakin sendu. Ketika membandingkan hasil UN 2019 dengan TKA 2025, semua mata pelajaran mengalami penurunan. Matematika turun dari 39,2 menjadi 36,1. Bahasa Indonesia turun dari 67,8 menjadi 55,3. Bahasa Inggris paling mengenaskan, dari 54,6 menjadi 24,9. Apalagi Bahasa Prancis nanti.
Grafiknya bukan lagi turun gunung. Ini sudah terjun dari stratosfer tanpa payung sambil membawa kulkas dua pintu.
Lalu datanglah tamparan berikutnya dari arena ASEAN. Berdasarkan PISA 2022, Singapura menjadi raja Matematika ASEAN sekaligus dunia dengan skor 575. Vietnam menyusul dengan 469. Brunei 442. Malaysia 409. Thailand 394.
Indonesia? 366. Peringkat keenam ASEAN.
Kita hanya unggul dari Filipina yang memperoleh 355 dan Kamboja 336. Selisih Indonesia dengan Vietnam mencapai lebih dari 100 poin. Menurut OECD, itu setara tiga hingga lima tahun pembelajaran.
Nuan bayangkan dua anak berangkat bersamaan menuju garis finis. Saat anak Vietnam sudah masuk stadion, naik podium, dan selfie membawa medali, kita masih sibuk mencari lokasi parkir.
Di tengah kondisi itulah Program MBG mulai ikut terseret ke meja pemeriksaan publik. Program yang digadang-gadang menjadi salah satu andalan pemerintah ini menghabiskan anggaran sekitar Rp223,5 triliun atau 29 persen dari total anggaran pendidikan.
Pada Agustus 2025, Wakil Menteri Pendidikan Stella Christie pernah menyampaikan, MBG berpotensi meningkatkan kemampuan Matematika dan Bahasa Inggris apabila dikemas secara kreatif dalam proses pembelajaran.
Logikanya sederhana. Anak kenyang, otak terang. Sayangnya, hasil TKA 2026 belum menunjukkan keajaiban tersebut.
Kritik pun bermunculan. Koordinator JPPI, Ubaid Matraji, menilai persoalan pendidikan Indonesia bukan semata-mata urusan makan siang.
Menurutnya, masalah utama justru terletak pada kualitas guru, distribusi tenaga pendidik yang tidak merata, kurikulum yang sering berganti wajah, dan pembelajaran yang kehilangan arah.
Bahasa sederhananya, perut siswa memang mulai terisi, tetapi nilai Matematikanya masih seperti sinyal internet di tengah hutan.
Belum cukup sampai di situ. Profesor Martadi menemukan fakta yang membuat dahi berkerut. Saat supervisi TKA, ada siswa yang bermain TikTok ketika ujian berlangsung. Bahkan ditemukan peserta yang mengerjakan soal dengan pendamping di sampingnya.
Ini bukan lagi ujian akademik. Ini reality show pendidikan dengan unsur komedi, drama, misteri, dan sedikit sentuhan supranatural.
Para pengamat akhirnya hampir satu suara. Mereka menyebut persoalan ini bersifat sistemik. Kurikulum terlalu sering berganti, kualitas guru belum merata, pengawasan ujian lemah, budaya hafalan masih dominan, sementara kemampuan bernalar belum menjadi panglima.
Maka, ketika nilai TKA siswa Indonesia ambruk dan Program MBG mulai dipertanyakan, yang sedang diuji sesungguhnya bukan hanya kemampuan anak menghitung angka. Yang sedang diuji adalah arah pendidikan nasional itu sendiri.
Sebab kalau ratusan triliun rupiah sudah berputar, slogan sudah berkibar, seminar sudah digelar, baliho sudah terpasang, tetapi nilai Matematika tetap nyangkut di angka 40-an, maka yang perlu dievaluasi bukan hanya muridnya.
Mungkin seluruh orkestra pendidikan sedang memainkan lagu yang salah, lalu heran mengapa penontonnya tidak ikut bernyanyi.
Rosadi JamaniKetua Satupena Kalbar
BERITA TERKAIT: