Dukungan tersebut diperoleh Gus Salam setelah melakukan rangkaian silaturahim dengan keluarga besar dan kerabat di Kediri dan Jombang, Jawa Timur.
“Ini bukan sekedar restu, tapi amanah. Melanjutkan perjuangan Mbah KH Bishri Syansuri, muassis-pendiri untuk berkhidmah menjaga NU, menjaga ideologi dan tradisi, dan menjaga umat demi kemashlahatan,” kata Nyai Hj. Muflichah Shohib, sesepuh Bani Bishri, dikutip Rabu, 19 Agustus 2026.
Ia juga berpesan agar Gus Salam menjalankan tanggung jawab dengan baik apabila dipercaya memimpin PBNU.
“Pokoknya, jangan kecewakan jam’iyyah dan jama’ah Nahdlatul Ulama, terutama keluarga besar Bani Bishri Syansuri. ‘Kembalikan NU ke dzurriyyah muassis’ bukan karena ekspresi emosional, tapi amanah arus bawah supaya memimpin di awal abad kedua jam’iyyah,” tambahnya.
Usai meminta izin, restu, nasihat, dan doa dari keluarga besar Bani Bishri Syansuri, Gus Salam melanjutkan sowan ke keluarga dari jalur ibunya di PP Lirboyo, Kediri. Didampingi kakak-kakaknya, Gus Salam sowan kepada sesepuh pengasuh PP Lirboyo Kediri, KH Anwar Manshur.
Secara nasab, Gus Salam merupakan cicit pendiri PP Lirboyo, Mbah KH Abdul Karim, dari jalur ibu. Kakaknya, KH Oing Abdul Muid Shohib, juga menjadi salah satu pengasuh di PP Lirboyo.
Kedatangan Gus Salam disambut hangat KH Anwar Manshur yang juga Rais Syuriyah PWNU Jawa Timur sekaligus Mustasyar PBNU. Dalam kesempatan itu, Gus Salam memohon izin, doa, dan restu agar ikhtiarnya memimpin PBNU mendapat ridha serta berjalan dalam arahan masyayikh NU dan pesantren.
Selanjutnya, Gus Salam bersama keluarga Denanyar bertolak ke PP Al-Falah Ploso, Kediri. Di sana, ia bersilaturahim dengan sesepuh PP Al-Falah sekaligus gurunya, KH Nurul Huda Djazuli atau Mbah Yai Da’, yang merupakan ayahanda Gus Kautsar dan salah satu Mustasyar PBNU.
Bagi Mbah Yai Da’, Gus Salam merupakan mantu keponakan. Istri Gus Salam, Ning Naili Zakiyyah, merupakan putri KH Ahmad Munif Djazuli, adik kandung KH Nurul Huda Djazuli. Gus Salam diambil menantu ketika masih menjadi santri di PP Al-Falah Ploso dan hingga kini masih aktif mengikuti pengajian rutin alumni yang diasuh Mbah Yai Da’.
“Maksud dan tujuan saya sama. Mohon izin, nasehat, restu, dan do’a para masyayikh untuk berikhtiar menjadi Ketua Umum PBNU periode 2026-2031,” ujar Gus Salam.
Menurut Gus Salam, sowan kepada keluarga Bani Bishri, Lirboyo, dan Al-Falah Ploso merupakan bagian dari adab sebelum melangkah dalam kontestasi kepemimpinan PBNU. Ketiga pesantren tersebut dinilai sebagai poros penting dalam sejarah NU.
Ia juga mengaku terus bersilaturahim dengan ulama dan kiai di berbagai daerah sebelum bertemu dengan PWNU dan PCNU se-Indonesia.
“NU ini besar karena barokahnya para kiai. Fakta konstitusi bahwa NU didirikan oleh Ulama pondok pesantren. Tanpa restu dan doa mereka, kita bukan apa-apa. Ini ikhtiar saya agar kepemimpinan PBNU ke depan tetap berakar pada tradisi Aswaja dan pesantren,” tegasnya.
Muktamar ke-35 NU dijadwalkan berlangsung pada 27-31 Agustus 2026. Hingga kini, PWNU, PCNU, dan PCI NU belum ditetapkan dan menerima undangan resmi sebagai peserta utusan. Dengan restu dari tiga poros pesantren besar tersebut, langkah Gus Salam untuk maju sebagai calon Ketua Umum PBNU periode 2026-2031 dinilai semakin kokoh.
BERITA TERKAIT: