Dalam beberapa waktu terakhir, Hery Haryanto Azumi intens melakukan silaturahmi dengan sejumlah pengasuh pesantren dan pengurus NU. Langkah itu dilakukan seiring pernyataannya siap maju sebagai calon Ketua Umum PBNU jika memperoleh restu dan dukungan dari para kiai serta warga Nahdliyin.
"Saya melihat NU sedang mengalami krisis. Terjadi konflik yang berkesinambungan, tetapi NU tidak mampu mengambil peran karena ikut terlibat dalam konflik. Situasi inilah yang melatarbelakangi panggilan untuk ikut cawe-cawe. Teman-teman ISNU, PBNU, hingga PMII juga mendorong hal itu," kata Hery dikutip Senin, 27 Juli 2026.
Menurut Hery, NU perlu melakukan penataan ulang manajemen organisasi. Menurutnya, perubahan tidak cukup hanya dilakukan di tingkat elite, tetapi harus melibatkan seluruh elemen jam'iyah agar bergerak bersama dalam menjalankan transformasi organisasi.
"Perubahan tidak sekadar memperbaiki metode persuratan melalui Digdaya. Itu memang bagian dari perubahan, tetapi belum sepenuhnya merepresentasikan transformasi organisasi yang lebih modern," ujarnya.
Hery menambahkan, NU saat ini memiliki lebih dari 35 Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) di berbagai negara. Menurutnya, jaringan diaspora tersebut merupakan modal sosial yang besar untuk menghadirkan solusi atas berbagai persoalan global.
"Masalahnya, apakah kita sudah terbiasa membicarakan krisis-krisis global itu dalam diskursus internal NU?" katanya.
Selain Hery, sejumlah nama juga disebut dalam bursa calon Ketua Umum PBNU menjelang Muktamar Ke-35 NU, di antaranya Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya), Menteri Agama KH Nasaruddin Umar, Wakil Ketua Umum PBNU KH Zulfa Mustofa, Ketua PWNU Jawa Timur KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin), Ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Tengah KH Abdul Ghaffar Rozin (Gus Rozin), KH Abdussalam Shohib (Gus Salam), serta KH Muhammad Yusuf Chudlori (Gus Yusuf).
BERITA TERKAIT: