Kang Cucun:

Pesantren Harus Adaptif tanpa Kehilangan Jati Diri

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/ahmad-alfian-1'>AHMAD ALFIAN</a>
LAPORAN: AHMAD ALFIAN
  • Selasa, 16 Juni 2026, 20:19 WIB
Pesantren Harus Adaptif tanpa Kehilangan Jati Diri
Wakil Ketua DPR RI, Cucun Ahmad Syamsurijal, saat menghadiri Haul Akbar ke-5 Muassis dan Masyayikh Pondok Pesantren Al-Husaeni di Ciparay, Kabupaten Bandung. (Foto: Dok PKB)
rmol news logo Pesantren dituntut terus beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan jati diri. Pesan itu disampaikan Wakil Ketua DPR RI, Cucun Ahmad Syamsurijal, saat menghadiri Haul Akbar ke-5 Muassis dan Masyayikh Pondok Pesantren Al-Husaeni di Ciparay, Kabupaten Bandung.

Menurutnya, peringatan haul harus dimaknai lebih dari sekadar tradisi mengenang para pendiri pesantren. Haul menjadi ruang refleksi untuk melanjutkan semangat perjuangan para muassis yang dengan penuh keikhlasan, keyakinan, dan kesabaran membangun Ponpes Al-Husaeni sebagai pusat penyebaran ilmu agama dan pembentukan karakter umat.

"Para masyayikh kita menjalani itu dengan ikhlas. Mereka menanam pohon yang buahnya dinikmati orang lain. Dan hari ini kita semua adalah buah dari pohon yang mereka tanam," ujarnya di hadapan keluarga besar pesantren, alumni, santri, dan para tokoh masyarakat yang hadir, Selasa, 16 Juni 2026.

Lebih lanjut, Wakil Ketua Umum DPP PKB itu menggaris komitmen negara terhadap dunia pesantren. Kehadiran Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2019 tentang Pesantren merupakan pengakuan konstitusional bahwa pesantren memiliki posisi yang sejajar dalam sistem pendidikan nasional. Namun, ia mengingatkan bahwa regulasi tersebut hanyalah sebuah pintu masuk.

Menghadapi perubahan zaman yang cepat, dinamika lapangan kerja, dan kompleksitas tantangan ekonomi, ia mendorong pesantren untuk melengkapi kurikulum tradisional dengan keterampilan modern yang relevan.

"Kitab kuning, halaqah, sorogan, dan bandongan harus tetap hidup. Namun, pesantren yang kuat adalah pesantren yang mampu melengkapi santrinya dengan keterampilan, jiwa wirausaha (entrepreneurship), kemampuan literasi digital, serta semangat berkontribusi nyata pada masyarakat," tegas Kang Cucun.

Ia menambahkan, visualisasi santri masa kini harus melompat lebih jauh. Bangsa Indonesia membutuhkan figur santri yang tidak hanya hafidz dan menguasai fiqih muamalah, tetapi juga cakap mengelola koperasi pesantren, memahami sistem keuangan syariah modern, serta siap mendukung program ketahanan pangan nasional. 

Pihaknya optimistis bahwa Pondok Pesantren Al-Husaeni memiliki modal sejarah dan tradisi yang kuat untuk melangkah ke arah kemandirian tersebut.

Di akhir sambutan, Kang Cucun mengajak seluruh elemen pesentren dan alumni untuk melanjutkan estafet perjuangan para muassis yang telah meletakkan fondasi kokoh bagi lembaga ini.

"Tugas kita sekarang adalah menjaga apa yang sudah dibangun, memperluas apa yang sudah ada, dan menyerahkannya kepada generasi berikutnya dalam kondisi yang jauh lebih baik," pungkasnya seraya menyampaikan ucapan selamat berhaul dan untuk keluarga besar Pondok Pesantren Al-Husaeni. rmol news logo article
EDITOR: AHMAD ALFIAN

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA