Pengamat intelijen dan geopolitik Amir Hamzah menilai kekuatan yang saat ini menopang pemerintahan Prabowo masih banyak berasal dari jejaring rezim lama, baik di legislatif, eksekutif maupun yudikatif.
Kondisi tersebut, kata dia, membuat Prabowo perlu mengambil langkah lebih tegas untuk membangun basis kekuatan politiknya sendiri.
“Belum ada ketegasan Prabowo terkait ijazah Jokowi dan Gibran. Prabowo harus membangun kekuatan baru,” kata Amir, dikutip Minggu 16 Agustus 2026.
Amir juga menyoroti langkah Hashim Djojohadikusumo, adik Prabowo, yang disebut mendirikan sekitar 20 organisasi kemasyarakatan (ormas) sebagai bagian dari upaya memperkuat basis pendukung Prabowo.
Ia berharap puluhan ormas tersebut tidak sekadar menjadi kendaraan politik baru, tetapi benar-benar diisi oleh kekuatan pendukung Prabowo.
“Kita berharap pengurus Gerindra tidak merangkap ormas itu. Jangan sampai tidak memverifikasi orang rezim lama ada di ormas tersebut,” kata Amir.
Namun, Amir mengingatkan bahwa keterlibatan keluarga dalam politik harus dikelola secara hati-hati. Ia menilai nepotisme merupakan hal yang tabu dalam politik dan karena itu posisi Hashim sebagai adik Prabowo perlu ditempatkan secara proporsional.
Amir kemudian membandingkan situasi tersebut dengan era Presiden Soeharto. Menurut dia, Soeharto tidak memasukkan adik tirinya, Probosutedjo, ke dalam politik praktis, tetapi memberikan ruang dalam bidang bisnis.
“Dalam politik, nepotisme itu tabu,” kata Amir.
BERITA TERKAIT: