Menurut Rosan, pemilihan Mahony dilakukan melalui proses penilaian yang menitikberatkan pada rekam jejak profesional, pengalaman internasional, serta pemahaman mendalam terhadap industri pertambangan dan perdagangan komoditas.
Sosok Mahony dinilai memiliki kapasitas yang sesuai untuk memimpin perusahaan yang akan memegang peran strategis dalam tata kelola ekspor Indonesia.
"Ya kita kan melihat banyak pertimbangan juga, ini kan lebih menjadi track record-nya juga dan dia kan sangat memahami juga, pengalaman sebelumnya baik di perusahaan multinasional di Vale," ujar Rosan saat tiba di Istana Merdeka, Jakarta, Jumat, 22 Mei 2026.
Selain pengalaman panjang di perusahaan tambang kelas dunia, Mahony juga dinilai memiliki kedekatan dengan Indonesia, karena sang istri merupakan warga Indonesia.
Namun Rosan menegaskan, faktor utama yang menjadi pertimbangan bukanlah kemampuan berbahasa Indonesia, melainkan kompetensi dan pengalaman bisnis yang dimilikinya.
"Tapi yang paling penting justru kita lihat pengalaman tradingnya ada, mineralsnya ada," kata dia.
Rosan menambahkan, pengalaman Mahony memimpin berbagai perusahaan mineral, jejaring internasional yang luas, serta kontribusinya selama bergabung di Danantara menjadi modal penting untuk mengemban tugas baru tersebut.
"Jadi pimpinan di banyak perusahaan mineral, jadi dan networkingnya juga baik dan yang paling penting kita lihat selama ini juga di Danantara kerjanya juga sangat-sangat baik," tegas Rosan.
Luke Mahony dikenal sebagai profesional tambang berpengalaman lulusan University of New South Wales (UNSW), Australia.
Kariernya ditempa di sejumlah perusahaan tambang kelas dunia seperti Xstrata Coal, BHP Billiton, dan Vale, sebelum bergabung dengan PT Vale Indonesia sebagai Chief Strategy and Technical Officer.
Sejak September 2025, Mahony dipercaya menjabat Senior Executive Vice President (SEVP) Business Performance & Optimization di Danantara Indonesia, hingga akhirnya ditunjuk memegang kendali PT DSI per-Mei tahun.
PT DSI sendiri merupakan entitas baru yang dibentuk setelah Presiden Prabowo menerbitkan Peraturan Pemerintah mengenai tata kelola ekspor SDA strategis.
Pada tahap awal, perusahaan ini akan mengendalikan ekspor komoditas utama Indonesia, yakni kelapa sawit, batu bara, dan paduan besi (ferro alloys), sebagai bagian dari upaya memperkuat posisi tawar Indonesia di pasar global.
BERITA TERKAIT: