Ia melihat kecenderungan meningkatnya jumlah pengamat yang memberikan pandangan di luar bidang keahliannya, sehingga memicu distorsi informasi di ruang publik.
“Sekarang ini ada satu fenomena. Apa itu? Ada yang namanya inflasi pengamat. Jadi banyak sekali pengamat, oke,” ujar Teddy.
Menurut Seskab, para pengamat tersebut berbicara tanpa didukung data yang valid, sehingga menimbulkan kecemasan publik.
“Ada pengamat beras tapi dia background-nya bukan di situ, ada pengamat militer, ada pengamat luar negeri, dan pengamat-pengamat itu datanya tidak sesuai fakta, datanya keliru. Oke,” paparnya.
Lebih jauh, Teddy menilai sebagian pengamat telah lama berupaya memengaruhi opini publik, bahkan sejak sebelum Presiden menjabat sebagai presiden.
Kendati demikian, tingkat kepercayaan masyarakat terhadap Kepala Negara saat ini masih tetap tinggi.
“Faktanya lebih dari 96 juta warga lebih percaya Pak Prabowo, tidak percaya mereka. Nah, itu adalah bukti nyata kepercayaan publik, bukan suatu asumsi ya,” jelasnya.
Ia menekankan perlunya kehati-hatian dalam menyampaikan pernyataan agar tidak memicu kegelisahan publik, sembari memastikan kondisi nasional tetap terkendali.
"Jangan sampai kita memberi statement yang mengarah pada kecemasan, membuat orang cemas terhadap negeri ini ya. Semuanya stabil, semuanya terkendali, dan ya, mari kita sama-sama untuk mencapai yang terbaik ke depan," pungkasnya.
BERITA TERKAIT: