Anggota Komisi VI DPR RI, Herman Khaeron, menyampaikan bahwa kondisi global saat ini tidak hanya dirasakan Indonesia, tetapi juga hampir seluruh negara di dunia. Meski demikian, ia mengapresiasi langkah pemerintah yang dinilai berhasil menjaga stabilitas harga bahan bakar minyak (BBM) di dalam negeri.
Menurutnya, pemerintah layak mendapat apresiasi karena mampu menahan harga BBM meskipun harga minyak dunia melonjak jauh di atas asumsi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang ditetapkan sebesar 70 Dolar AS per barel.
Saat ini, harga minyak dunia bahkan telah menembus kisaran 110 hingga 115 Dolar AS per barel. Kondisi tersebut tentu menjadi tantangan besar bagi ketahanan fiskal nasional. Namun, melalui berbagai strategi, pemerintah dinilai tetap mampu menjaga stabilitas tanpa menaikkan harga BBM.
Dalam situasi ini, Herman menekankan pentingnya menjaga ketenangan masyarakat serta menghindari praktik spekulasi, seperti penimbunan BBM, yang dapat memperburuk kondisi di lapangan.
Ia juga mengungkapkan bahwa pemerintah tengah menyiapkan sejumlah langkah alternatif untuk menghemat energi. Salah satunya adalah penerapan kebijakan kerja dari mana saja atau work from anywhere (WFA), yang direncanakan mulai diberlakukan setiap hari Jumat sejak April.
Menurut Herman, kebijakan tersebut merupakan bagian dari strategi adaptif yang juga telah diterapkan di sejumlah negara lain dalam menghadapi lonjakan harga energi.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa sinergi antara DPR dan pemerintah menjadi kunci utama dalam memastikan setiap kebijakan dapat berjalan optimal, terutama di tengah situasi krisis.
Ia optimistis bahwa tekanan krisis energi ini bersifat sementara dan akan membaik seiring meredanya ketegangan geopolitik global serta normalisasi rantai pasok energi dunia.
“Ini menjadi tanggung jawab bersama untuk bisa melewati masa sulit ini,” pungkasnya.
BERITA TERKAIT: