Namun, jika melihat data harga perdagangan dua hari terakhir, pergerakan keduanya menunjukkan pola yang berbeda dan tidak sepenuhnya menggambarkan pelemahan dari harga penutupan sehari sebelumnya.
Pada perdagangan Kamis, 30 Juli 2026, saham ADRO dibuka di level Rp2.450, sempat menyentuh level tertinggi Rp2.510 dan terendah Rp2.420, sebelum ditutup di Rp2.510. Volume perdagangan mencapai 35,07 juta saham dengan nilai transaksi Rp86,51 miliar dan frekuensi 11.324 kali.
Memasuki Jumat, 31 Juli 2026, ADRO bergerak di rentang Rp2.440 hingga Rp2.520. Pada pukul 16.32.44 WIB, saham tersebut tercatat di level Rp2.510. Dengan demikian, berdasarkan data yang diberikan, harga terakhir ADRO masih sama dengan penutupan Kamis di Rp2.510.
Meski harga terakhir tidak berubah secara harian, aktivitas perdagangan ADRO meningkat. Volume transaksi naik menjadi 45,28 juta saham dengan nilai Rp112,04 miliar dan frekuensi 11.484 kali.
ADRO merupakan emiten yang bergerak di sektor energi dan sumber daya alam, dengan bisnis yang mencakup batu bara metalurgi, mineral, energi, serta pengembangan bisnis terkait transisi energi.
Sementara itu, UNTR pada Kamis, 30 Juli 2026, dibuka di Rp23.975, sempat mencapai Rp24.250 dan turun ke Rp23.425, sebelum ditutup di Rp24.250. Volume perdagangan tercatat 9,31 juta saham dengan nilai transaksi Rp222,52 miliar dan frekuensi 9.847 kali.
Pada Jumat, 31 Juli 2026, UNTR diperdagangkan dengan rentang Rp23.825 hingga Rp24.100. Namun, data terakhir yang diberikan menunjukkan harga Rp24.250 pada pukul 16.30.00 WIB.
Jika mengacu pada harga terakhir tersebut, UNTR juga berada di level yang sama dengan penutupan Kamis. Volume perdagangan turun menjadi 6,78 juta saham, sedangkan nilai transaksi turun menjadi Rp162,36 miliar. Frekuensi transaksi juga berkurang menjadi 6.584 kali.
UNTR memiliki bisnis yang lebih terdiversifikasi dibandingkan ADRO. Perusahaan bergerak di bidang alat berat, kontraktor pertambangan, pertambangan, konstruksi, serta energi. Struktur bisnis tersebut membuat kinerja UNTR tidak hanya dipengaruhi harga komoditas, tetapi juga aktivitas pertambangan dan permintaan alat berat.
Dari sisi aktivitas perdagangan, ADRO mencatat volume yang jauh lebih besar pada Jumat. Sebanyak 45,28 juta saham ADRO diperdagangkan, sekitar 6,7 kali volume UNTR yang mencapai 6,78 juta saham.
Frekuensi perdagangan ADRO juga lebih tinggi, yakni 11.484 kali dibandingkan UNTR sebanyak 6.584 kali.
Namun, UNTR unggul dari sisi nilai transaksi. Nilai perdagangan UNTR mencapai Rp162,36 miliar, lebih besar dibandingkan ADRO sebesar Rp112,04 miliar. Perbedaan ini terutama disebabkan harga saham UNTR yang jauh lebih tinggi sehingga transaksi dengan jumlah saham lebih kecil tetap menghasilkan nilai perdagangan yang besar.
Dari sisi perubahan harga berdasarkan data yang tersedia, kedua saham sama-sama berakhir di level yang sama dengan penutupan Kamis. ADRO berada di Rp2.510 pada kedua hari perdagangan, sementara UNTR juga tercatat Rp24.250 pada kedua hari tersebut.
Dengan demikian, meski ADRO dan UNTR tercatat dalam jajaran top loser LQ45 pada penutupan Jumat, data harga yang tersedia menunjukkan bahwa keduanya tidak mengalami perubahan harga penutupan secara harian. Perbedaan lebih terlihat pada aktivitas perdagangan, dengan ADRO jauh lebih ramai dari sisi volume dan frekuensi, sedangkan UNTR mencatat nilai transaksi yang lebih besar.
Perbedaan karakter bisnis juga membuat keduanya memiliki eksposur yang berbeda terhadap sektor pertambangan. ADRO lebih terkait dengan bisnis sumber daya alam dan energi, sedangkan UNTR memiliki diversifikasi yang lebih luas melalui alat berat, jasa pertambangan, pertambangan, konstruksi, dan energi.
BERITA TERKAIT: