Namun demikian, pengamat politik Nurul Fatta mengingatkan bahwa politik tidak pernah sepenuhnya bisa dipastikan.
“Secara kalkulasi politiknya, posisi Prabowo memang terlihat sangat kuat. Namun mengatakan bahwa Prabowo ‘tinggal merem sudah menang’ mungkin terlalu simplifikatif,” ujarnya kepada RMOL, Selasa, 24 Februari 2026.
Ia menegaskan, dalam politik selalu ada variabel tak terduga yang bisa mengubah peta persaingan. Faktor-faktor seperti dinamika ekonomi, potensi krisis, fragmentasi elite, hingga resistensi publik bisa menjadi penentu arah kontestasi.
Meski begitu, Nurul Fatta menilai selama indikator utama elektoral tetap stabil, Prabowo masih berada di posisi unggul dibandingkan calon potensial lainnya.
“Selama tren elektabilitas dan approval rating tidak melandai secara signifikan, posisi Prabowo Subianto masih dapat dikatakan unggul. Stabilitas dua indikator tersebut dalam survei-survei menjadi penanda bahwa basis dukungan elektoralnya tetap terjaga dan belum terjadi pengikisan kepercayaan publik yang berarti,” pungkasnya.
Dengan demikian, dorongan parpol dan elite politik dinilai rasional secara kalkulatif, tetapi tetap harus dibaca dalam konteks dinamika politik yang terus bergerak.
BERITA TERKAIT: