Demikian dikatakan Gurubesar Hukum Internasional Profesor Hikmahanto Juwana ihwal intervensi Amerika Serikat dan sekutunya agar Indonesia tidak mengundang Presiden Rusia Vladimir Putin dalam KTT G20, Minggu (3/4).
"Pertama jangan pindahkan konflik dengan Rusia ke Forum G20. Tidak seharusnya pernyataan akan hadir atau tidak disampaikan pada saat ini dan digantungkan pada syarat hadir tidaknya Rusia. Biarkan semua mengalir pada saatnya,†ucap Profesor Hikmahanto Juwana.
Yang kedua, kata Rektor Universitas Jenderal Achmad Yani ini, Indonesia tidak ingin ditekan ketika mengundang Rusia sebagai anggota G20.
Pasalnya, lanjut Hikmahanto, bukan tidak mungkin bila Indonesia mengikuti kehendak AS dan sekutunya, maka Rusia akan mendapatkan dukungan dari China dan mungkin India.
"Dua negara ini akan bersikap untuk tidak hadir bila Rusia dihalangi untuk hadir. Padahal China dan India merupakan dua negara penting di G20 karena memiliki jumlah penduduk yang besar,†imbuhnya.
Kemudian yang ketiga, Indonesia berharap AS dan sekutunya terus mendukung Indonesia sebagai Presiden dan tuan rumah yang baik dalam pelaksanaan event G20 tahun ini.
"Indonesia tidak ingin masalah geopolitik di Eropa berimbas pada pembahasan perekonomian dunia di masa mendatang. Terlebih dijadikan medan untuk melanjutkan upaya menjatuhkan Putin sebagai Presiden Rusia,†demikian Hikmahanto.
BERITA TERKAIT: