Sri Mulyani berdalih menaikkan cukai minuman berpemanis untuk mengurangi angka kematian akibat diabetes.
Pakar ekonomi, Dradjad Wibowo menyampaikan, Sri Mulyani adalah anggota Gugus Tugas Kebijakan Fiskal Bagi Kesehatan atau The Task Force On Fiscal Policy For Health dari Bloomberg Philanthropies (BP).
BP adalah yayasan sosialnya Michael R. Bloomberg, salah satu orang terkaya AS yang sekarang maju sebagai salah satu kandidat Capres dari Partai Demokrat dalam Pilpres 2020.
Selama Agustus 2016-November 2019, Bloomberg ditunjuk sebagai Duta Global WHO untuk penyakit tidak menular (PTM) dan cidera.
Kategori PTM diantaranya penyakit diabetes, kardiovaskular (jantung), kanker dan pernafasan kronis.
Dalam tugasnya sebagai duta global WHO ini, Bloomberg melalui BP membentuk Gugus Tugas. Dia menjadi Ketua bersama dengan Lawrence H. Summers yang pernah menjadi Menkeu AS dan Kepala Ekonomi Bank Dunia.
Pada April 2019 Gugus Tugas tersebut menerbitkan laporan “Health Taxes To Save Livesâ€.
Laporan ini mengklaim, 50 juta kematian dini dapat dicegah jika pajak, cukai atau pungutan terhadap rokok, alkohol dan minuman bergula (pemanis) dinaikkan sehingga harga mereka naik 50 persen selama 50 tahun ke depan.
Dalam penilaian Dradjad, rencana Sri Mulyani bisa jadi sebagai implementasi dari program Gugus Tugas BP tersebut.
“Menkeu Sri Mulyani sudah menaikkan cukai rokok. Sekarang dia juga akan menaikan cukai bagi pemanis / minuman bergula. Jadi jelas terlihat bahwa Menkeu melaksanakan kesimpulan dari laporan Gugus Tugas di atas,†ujar Dradjad kepada
Kantor Berita Politik RMOL, Kamis (20/2).
Politisi Partai Amanat Nasional (PAN) ini mendukung penuh pemerintah atas kebijakan tersebut selama mampu mengedepankan kesehatan masyarakat.
“Secara moral saya mendukung inisiatif bagi kesehatan masyarakat yang dilakukan Bloomberg. Apalagi studi S2 saya itu mengambil spesialisasi ekonomi kesehatan, di mana saya mengambil kasus pencegahan penyakit menular,†tandasnya.