Anggota DPR RI Komisi VII FPKS Rofi' Munawar menilai harga minyak dunia memang tengah berada di rentang angka tersebut. Namun demikian, perlu dicermati juga bahwa dalam satu tahun terakhir harga minyak dunia sangat dinamis.
“Di tengah asumsi APBN yang sangat konservatif tentu diperlukan formulasi yang lebih cermat dalam memprediksi situasi tersebut,†disampaikan oleh Rofi' Munawar dalam keterangan tertulis yang diterima, Rabu (29/8).
Kata dia, banyak ketidakpastian dan berbagai faktor, seperti geopolitik di negara penghasil minyak seperti Iran dan Venezuela, kebijakan pengendalian produksi minyak anggota OPEC, dan kelanjutan perang dagang antara Amerika dan Tiongkok.
Selain itu, perlu juga dicermati faktor pemulihan kondisi perekonomian dunia yang telah menyebabkan harga minyak sulit diprediksi. Adapun saat ini harga WTI sekitar 65 dolar AS per barrel sementara Brent sekitar 72 dolar AS per barrel.
"Pemerintah wajib menyiapkan rencana untuk mengantisipasi perubahan harga ICP karena hal ini akan sangat mempengaruhi penerimaan negara dan belanja subsidi energi bagi masyarakat,†jelasnya.
Rofi menilai bahwa pergerakan ICP di tahun 2019 masih akan fluktuatif, mengingat dinamika harga minyak dunia dan trend-nya ke depan, terutama juga akan sangat dipengaruhi meningkatnya ketegangan geopolitik internasional.
"Mendorong pemerintah untuk lebih cermat dalam memprediksi harga minyak dunia dan trend-nya ke depan, sehingga dapat dilakukan perhitungan yang lebih akurat dalam menentukan ICP. Pemerintah juga perlu mengembangkan mekanisme lindung nilai
(hedging),†tegasnya.
Angka
lifting yang cenderung menurun tidak boleh dibiarkan terus. Pemerintah harus melakukan upaya-upaya yang ekstra serius untuk mengatasi penurunan lifting ini. Perlu didorong usaha eksplorasi yang signifikan agar lifting minyak dapat ditingkatkan.
"Kebijakan Pemerintah di tingkat pusat maupun daerah harus memfasilitasi kemudahan regulasi bagi industri minyak untuk melakukan eksplorasi pencarian sumur-sumur minyak baru,†tukasnya.
[ian]
BERITA TERKAIT: