"Penyuluh kita memang jumlahnya ribuan, tapi tidak optimal. Mobilitas mereka sangat kurang karena minim sekali yang memiliki transportasi. Akibatnya, transfer pengetahuan ke petani sangat kurang,†ucap politisi Golkar ini, Senin (14/8).
Untungnya, kata dia, Kementerian Pertanian (Kementan) menggandeng TNI. Roem Kono menilai, terobosan Kementan ini sangat bagus untuk menutupi kekurangan penyuluh di lapangan.
"Secara sumber daya, TNI cukup besar. Kemdian, biaya yang dikeluarkan Pemerintah dengan melibatkan TNI tidak mahal seperti yang dilaksanakan kontraktor. Dalam pelaksanaannya ada jaminan Panglima. Saya kira ini langkah yang baik mempercepat pembangunan, utamanya pertanian di daerah-daerah terpencil. Makanya, kerja sama dengan TNI ini harus terus didorong dan diberikan apresiasi,†tuturnya.
Dia justru ingin pelibatan TNI tidak hanya pada pengawasan, pembagian bibit dan pupuk, serta operasional alat mesin pertanian (alsintan). TNI juga perli dilibatkan dalam membantu menangkal serangan hama wereng yang banyak menyerang persawahan petani. Apalagi, serangan wereng menjadi hal yang sangat mengkhawatirkan. Sudah banyak areal sawah gagal panen karena serangan hama ini.
"Sekarang bagaimana pemberantasan hama wereng ini. Kan bisa juga melalui kerja sama dengan TNI untuk semprot. Karena sekarang ini hampir 30 persen sawah kita nyaris gagal panen karena serangan hama ini. Akibatnya, pendapatan petani berkurang,†katanya.
Gara-gara serangan wereng, ada petani yang menderita kerugian sampai tiga kali. "Di daerah-daerah itu banyak sekali petani menderita gagal panen sampai tiga kali. Mereka mau apa kalau seperti itu. Jadinya, ya ngutang ke ijon. Saya pemberantasan hama wereng ini penting dikerjasamakan dengan TNI ini,†tambah dia.
[sam]
BERITA TERKAIT: